Hey, Manila! This is the Story When I Got Kicked-out from A Taxi

Welcome to Manila!
Welcome to Manila!

Somehow… Manila mengingatkan saya pada Jakarta: Kota besar dengan gedung-gedung tinggi, jalanan besar, lampu-lampu kota, dan deretan mobil-mobil mewah. Hanya saja Manila masih jauh lebih bersih dan teratur. Kesan pertama yang bagus, bukan?

Saat saya tiba di Manila, cuaca lagi panas-panasnya. Matahari terik menyengat. Rasanya ingin cepat-cepat sampai di hostel dan mendinginkan diri di bawah AC. Sebagai pendatang di kota besar dengan berbagai cerita kriminal yang sadis, saya diwanti-wanti untuk langsung mencari airport taxi dan minta diantar ke daerah Makati City tempat saya menginap, sesaat setelah keluar dari NAIA. Airport taxi tarifnya jauh lebih murah sesuai argo dan kebetulan daerah yang saya tuju pun ngga terlalu jauh, hanya 20 menit aja dan saya bayar sekira 300 PHP atau Rp 78.000, kalau ukuran di Jakarta atau Bandung tarif segini termasuk mahal juga sih, tapi kalau di Manila ngga.

TIPS: Berikan alamat tujuan dengan jelas ke petugas di tempat menunggu taksi. Setelah duduk di dalam mobil, seringkali sopir taksi menanyakan apakah penumpang ingin melewati Skyway -jalan tol – atau ngga. Kalau iya, segera siapkan uang 20 PHP atau Rp 5.200 untuk tiketnya Skyway.

Airport Taxi di NAIA
Airport Taxi di NAIA

Our Melting Pot Hostel: Best Place to Stay in Manila

Tempat yang saya tuju di daerah Makati City adalah Our Melting Pot (OMP) Hostel. Lokasinya di pinggir jalan besar dan berhadapan langsung dengan sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan lengkap, A Venue Mall. Hostel ini adalah hasil rekomendasi teman yang tinggal di Manila. Kalau dilihat dari review-nya di internet, hostel ini juara! Ruangannya nyaman dan terlihat menyenangkan. Semua komentar positif yang saya dapatkan di website ternyata memang terbayar lunas! Pemilik hostel dan staf-nya sangat ramah dan helpful. Bahkan mereka menyediakan tur gratis buat semua penghuni hostel yang ingin jalan-jalan ke kota tua.

Ada cerita unik saat saya booking kamar sebulan sebelum berangkat ke Manila. Waktu itu saya booking melalui AsiaRoom.com dengan harga 1.500 PHP (Rp 390.000) untuk 3 orang selama 3 hari 2 malam, jenis dormitory room dengan 4 tempat tidur. Ngga lama kemudian, saya dapat email balasan langsung dari OMP yang menginformasikan kalau ada kesalahan harga yang tercantum di AsiaRooms.com. Seharusnya harga yang saya bayar adalah 4.500 PHP (Rp 1.170.000) dengan rincian yang sama. Dirasa terlalu mahal, akhirnya saya batalkan pemesanannya. Kecewa karena saya kehilangan kesempatan untuk tinggal di OMP.

Besok harinya, saya dapat email lagi dari salah satu pemilik OMP yang merasa ngga enak atas kejadian ‘gagal booking karena salah harga’ sehari sebelumnya. Akhirnya mereka menawarkan diri untuk memberikan potongan harga sesuai dengan budget yang saya berikan, 2.550 PHP (Rp 663.000) untuk 3 orang selama 3 hari 2 malam, jenis dormitory room dengan 6 tempat tidur. Ah, senangnyaaaa… Berarti saya hanya menghabiskan Rp 221.000 untuk biaya hostel dengan tempat yang sangat bagus! Kapan-kapan main ke Manila, nginep di OMP ya… Ini emailnya ourmeltingpotbackpackers@gmail.com, handphone +629329500255, landline +6326595443.

Our Melting Pot Hostel. 4th Floor Mavenue Building, 7844 Makati Avenue corner of Guerrero Street, Makati City 1209, Philippines.
Our Melting Pot Hostel. 4th Floor Mavenue Building, 7844 Makati Avenue corner of Guerrero Street, Makati City 1209, Philippines.
OMP di Makati Ave
OMP di Makati Ave
Suasana saat sarapan di OMP. Backpackers dari berbagai negara kumpul dan berbagi cerita.
Suasana saat sarapan di OMP. Backpackers dari berbagai negara kumpul dan berbagi cerita.
PCs with full internet access 24 hours plus wi-fi all around the building.
PCs with full internet access 24 hours plus wi-fi all around the building.
Front desk at OMP
Front desk at OMP
Suasana OMP yang bikin betah... Jadinya hampir ngga kemana-mana di Manila.
Suasana OMP yang bikin betah… Jadinya hampir ngga kemana-mana di Manila.
OMPs Dining Room
OMPs Dining Room
Free breakfast for everyone at OMP
Free breakfast for everyone at OMP
Dormitory Room with 4 beds and full AC at OMP
Dormitory Room with 4 beds and full AC at OMP
Box tempat penyimpanan laptop atau barang-barang lainnya kalau kepenuhan di kamar.
Box tempat penyimpanan laptop atau barang-barang lainnya kalau kepenuhan di kamar.
Kamar mandi di OMP yang sangat bersih.
Kamar mandi di OMP yang sangat bersih.
Our Melting Pot Hostel
Our Melting Pot Hostel
Saya, Anti, Ruth, dan pemilik OMP Hostel
Saya, Anti, Ruth, dan pemilik OMP Hostel. Itu kain NTT-nya sengaja saya kasih sebagai tanda terima kasih karena mereka baik banget… | Dok. Ruth Anasthasia

It Took Almost 60 Minutes to Get A Taxi in Manila! Oh My!

Makati City adalah salah satu lokasi yang terkenal di Manila. Akses menuju Makati Avenue juga sangat gampang. Taksi banyak yang lewat, apalagi jeepney. Kalau mau pakai taksi, pastikan cegat taksi warna putih karena taksi kuning adalah taksi airport. Tapi ada pengalaman seru nih waktu naik taksi! Suatu sore saya janjian dengan Vonny – teman kuliah yang sekarang tinggal di Manila. Kami janjian di Bonifacio High Street, salah satu tempat yang high-end lah, semua orang pasti tau tempat ini.

Sesuai dengan arahan, begitu dapet taksi, saya, Ruth, dan Anti langsung menyebutkan tujuan kami: Bonifacio High Street. Anehnya, sopir taksi menolak untuk mengantarkan kami kesana padahal kami udah di dalem mobil dan di tengah-tengah jalan besar. Saya yakinkan lagi kalau saya punya peta buat mengarahkan ke sana. Tapi sopir taksi tetep menolak! “Sorry mam I don’t know that place” gitu katanya. Akhirnya kami turun dari taksi dan balik lagi ke pinggir jalan nyari taksi yang lain…

Taksi di Manila sama banyaknya dengan di Jakarta atau Bandung. Tanpa harus booking dulu pun banyak taksi yang bisa langsung cegat di pinggir jalanan di Manila tapi perlu kesabaran tingat dewa! Asli! Waktu mau pulang ke Makati Ave dari Bonifacio High Street, saya nunggu taksi sampe hampir satu jam! Padahal daerah itu tempat menunggu taksi dan di tengah kota. Banyak taksi yang lewat dan kosong tapi mereka ngga mau berhenti ngga tau kenapa… Bahkan ada 1 taksi yang melewati kami sampai 3 kali tanpa mau berhenti!

TIPS: Bersabarlah dengan taksi-taksi di Manila. Kalau mau naik jeepney, pastikan dulu tujuannya dan cocokkan dengan tulisan yang ada di badan jeepney. jangan sampai salah naik.

Jeepney di Manila | Dok. Ruth Anasthasia
Jeepney di Manila | Dok. Ruth Anasthasia
Ruth dan Anti di Ayala Museum, Makati Avenue, Manila
Ruth dan Anti di Ayala Museum, Makati Avenue, Manila | Dok. Ruth Anasthasia
Greenbelt, salah satu mall di Makati Ave. Ini adalah 5 mall yang dijadiin 1. Luasnya jangan tanya!
Greenbelt, salah satu mall di Makati Ave. Ini adalah 5 mall yang dijadiin 1. Luasnya jangan tanya! | Dok. Ruth Anasthasia
Saya, Vonny, Anti, dan Ruuth. Habis belanja di Market! Market! Bonifacio High Street, Taguig City, Manila
Saya, Vonny, Anti, dan Ruuth. Habis belanja di Market! Market! Bonifacio High Street, Taguig City, Manila
Skyscraper in Manila
Skyscraper in Manila
Salah satu gedung mall di sepanjang Makati Avenue, Manila.
Salah satu gedung mall di sepanjang Makati Avenue, Manila.
Taguig City, Manila. Pusat perkantoran dan apartemen mewah.
Taguig City, Manila. Pusat perkantoran dan apartemen mewah.

Let’s Eat!

Cari makan di Manila ngga susah. Selayaknya kota besar, restoran ada di mana-mana, dari mulai yang mahal sampai yang murah, yang sehat sampai junk-food. Mungkin karena saya tinggal di Makati City dan jalan-jalan ke Taguig City yang keduanya di tengah kota, jadi akses untuk makanan juga lebih mudah. Tapi yang susah itu adalah cari makanan halal… HAHAHAHA! Semua makanan pasti pakai pork. Ruth yang paing happy sedunia, setiap hari makan pork terus sedangkan saya dan Anti makannya ayam goreng terus.

Ada yang menarik soal makanan di Filipina. Di setiap restoran yang saya kunjungi, pasti tersedia booth nasi gratis. Jadi ternyata memang udah jadi kebiasaan di Filipina kalau pengelola restoran menyediakan nasi gratis. Kalau mau nambah nasi ya silakan. Sepuasnya! Lalu, orang-orang di Filipina kalau makan ayam goreng pasti akai sendok-garpu. Makan McD sekalipun ya pakai sendok-garpu. Aneh ya… Tapi seru!

TIPS: Buat yang ngga suka makan pork, harus teliti setiap kali pesan makanan. Tanyakan dan pastikan kalau makanannya ngga dicampur pork. Pesan sayur-sayuran pun kadang dicampur pork kecil-kecil gitu dagingnya… Jadi paling aman ya makan ayam dan nasi. Kenyang!

Nasi gratisan untuk semua! Ayo nambah lagi...
Nasi gratisan untuk semua! Ayo nambah lagi…
Tapi saya sih cuek aja makan nasi-ayam pakai tangan...
Tapi saya sih cuek aja makan nasi-ayam pakai tangan…
Halo-Halo it's a Filipino mixed-fruit dessert. Macapuno (shredded young coconut) + Kaong (palm nuts) + Nata de Coco + Cantaloupe + Milk + Ubi.
Halo-Halo it’s a Filipino mixed-fruit dessert. Macapuno (shredded young coconut) + Kaong (palm nuts) + Nata de Coco + Cantaloupe + Milk + Ubi Ungu
Anti, Vonny, saya, dan Ruth. BFF!
Anti, Vonny, saya, dan Ruth. BFF!

Count Me In on Our Last Night in Manila

Betah banget kayaknya saya di Manila… Iya! Super ingin tinggal di Manila aja! Malam terakhir, saya sempatkan untuk ketemu Mike, penyiar radio lokal yang saya kenal waktu liputan di Malaysia bulan Maret lalu. Dia memang udah janji akan ngajakin saya jalan-jalan di Manila. Sayangnya ada satu lagi teman saya namanya Lambert, tapi dia ngga bisa ikutan main karena lagi di Amerika. Akhirnya, saya dijemput malam itu dan diajak ke bar masih di daerah Makati, namanya SaGuijo. Ada beberapa band yang perform saat itu. Bar-nya kecil tapi happening gitu di Manila… Saya dikenalin ke beberapa anak-anak band yang musiknya bagus-bagus. Scene-nya ngga terlalu beda jauh dengan di Indonesia. Keasikan ngobrol, malam itu saya baru pulang ke hostel jam setengah 4 pagi!

TIPS: Go have fun in Manila! Money worth to spend for beers!

Saya dan Miguel Torres di SaGuijo Bar, Manila. Thanks for capturing this picture, Mike! Hahaha...
Saya dan Miguel Torres di SaGuijo Bar, Manila. Thanks for capturing this picture, Mike! Hahaha…
Entrance stamp to SaGuijo Bar, Manila
Entrance stamp to SaGuijo Bar, Manila

This Is It! Drag Myself Back Home: Indonesia

Waktunya pulang. Lima hari main di Filipina ternyata kurang lama… Daripada dipecat dari kantor, saya paksain pulang. Padahal besoknya di Manila ada Wanderland, festival band semacam Java Rockin’ Land, ada The Temper Trap dan Neon Trees. Tapi ya sudahah… Indonesia, saya pulang.

Sebelum perjalanan pulang ke Indonesia, saya ketemu Gabriella di OMP, sesama travelers yang akan ke Indonesia. Dia dari Jerman, akan ke Krakatau dan nyebrang ke Madagascar. Usianya udah 59 tahun tapi masih semangat untuk keliling dunia! Kami terbang dengan pesawat yang sama.

Anti dan Gabriella
Anti dan Gabriella
Ruth dan Gabriella
Ruth dan Gabriella
Saya dan Gabriella
Saya dan Gabriella
Di airport sesaat sebelum boarding menuju Indonesia
Di airport sesaat sebelum boarding menuju Indonesia

So I waved goodbye to Manila. Until we meet again… ***

 

Advertisements

10 thoughts on “Hey, Manila! This is the Story When I Got Kicked-out from A Taxi

  1. hallo asik ya jalan jalan ke manila nya..kebetulan saya insya alloh mau kemanila dan boracay..maaf kl utk tas masuk kabin pakai cebu ketat gak?bisa b tas koper sm ransel ga ke kabin?

    1. Hello, Zoice! :) Kemarin juga saya bawa ransel ko. Temen saya bawa koper. Tapi memang ukurannya ngga besar. Panjangnya ngga lebih dari 60 cm. Standar aja ko untuk aturan tas kabin. Mereka ngga rese. Happy holiday ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s