Apakah Training Itu Penting?

Typewriter close up shot, concept of Online News

Bandung digegerkan dengan penyergapan terduga teroris! Baku tembak terjadi di daerah Cigondewah (8/5) antara teroris dengan Densus 88. Pertama kali saya mendapatkan informasinya lewat Twitter. Awalnya saya pikir ini hanya drama di timeline seperti yang sudah-sudah. Sensasi yang cenderung hoax.

Tapi ternyata kejadiannya betulan! Penasaran dengan apa yang sebetulnya terjadi, seharian kemarin akhirnya saya ikuti pemberitaannya melalui media online, media yang paling mudak diakses karena bisa sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Anyway… Pernyergapan itu berlangsung dramatis. Ditambah dengan adanya 2 anak yang ngga sempat dievakuasi dari sekitar lokasi baku tembak. Sempat beredar kabar bahwa 2 anak tersebut dijadikan sandera padahal ngga. Hal itu dikonfirmasi oleh pihak kepolisian. Akhirnya drama pun selesai. 3 orang terduga teroris ditembak mati, 1 orang ditangkap hidup-hidup. Sisanya biarlah diselesaikan oleh yang berwenang.

Pemberitaan tentang terorisme ini pada akhirnya menjadi hal yang sensasional, apalagi di media sosial. Media online – sebagai media yang paling cepat menyampaikan informasi – digunakan oleh banyak orang untuk mendapatkan berbagai sudut pandang tentang peristiwa ini.

Sebagai orang yang ditempa oleh pendidikan jurnalistik saat kuliah, saya ‘gatel’ juga membaca sebagian berita tentang peristiwa penangkapan terduga teroris di Bandung. Salah satunya adalah judul berita yang saya kutip dari www.sindonews.com berikut ini:

“Empat Terduga Teroris Mengaku sebagai Tukang Jahit”

Ngga salah ya kalau ada mata kuliah Dasar-Dasar Logika. Coba perhatikan kalimat di atas, dimana letak logikanya? Akan menjadi suatu hal yang mustahil jika saat pertama kali datang ke Cigondewah dan mengontrak rumah, para teroris tersebut langsung mengaku sebagai teroris. “Halo, perkenalkan kami teroris yang mengontrak rumah di sini…”

Judul tersebut memang diambil dari pengakuan warga sekitar. Tapi akan jauh lebih elok jika diganti menjadi “Warga Mengenal Terduga Teroris sebagai Tukang Jahit”. Pesan yang disampaikan tetap sama: Warga tidak mengenal keempat orang itu. Hanya saja susunan kalimatnya menjadi lebih logis.

Kemudian ada lagi berita yang menggiring opini publik pada sebuah penggambaran ciri-ciri teroris yang dikutip dari www.antaranews.com berikut ini:

“Penampilannya biasa saja, tidak seperti teroris yang ada jenggotnya, tidak pakai baju gamis. Pokoknya tidak seperti teroris.”

Kalimat tersebut diucapkan oleh salah seorang warga di lokasi penyergapan, yang kemudian dikutip dan dijadikan berita. Saya mengakui kalau masyarakat menggambarkan teroris sebagai laki-laki yang berjanggut dan memakai baju gamis. Blame America for that! Tapi hal tersebut tidak boleh dijadikan pembenaran. Kalau menemukan seorang muslim dengan penampilan seperti itu, wajar. Sunnah Rasul. Salah satu bentuk ibadah. Ciri-ciri teroris itu seperti apa sih?

Media seharusnya tidak boleh menggiring opini publik pada sebuah pandangan yang keliru. Pemilihan narasumber juga jadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Apalagi terkait isu sensitif: Agama dan terorisme. Kalau narasumbernya kredibel, kutipannya pun tidak akan mengarah pada stigma tertentu. Mungkin karena dituntut untuk cepat dalam pemberitaan, pada akhirnya ada kaidah jurnalistik yang terlupakan.

Training! Jangan So’ Pinter!

Tulisan saya ini memicu komentar salah seorang dosen saya sewaktu kuliah di Fikom, Pak Dede Mulkan. Di Facebook, beliau mengatakan bahwa media terlalu gegabah dalam mengutip hasil wawancara dengan narasumber yang tidak jelas kredibilitasnya. Sedangkan teman saya Iwan Kurniawan – Junior Editor VIVAnews.com – memberikan tanggapan mengenai media online di Indonesia. Menurutnya, kutipan berita yang gegabah merupakan salah satu kelemahan media online disini. Semua opini orang dapat dijadikan berita, karena tidak terbatas ruang pada halaman koran, akibatnya setiap orang dapat dijadikan berita tanpa menyaring kapasitasnya sebagai narsum.

Bahkan, beberapa situs berita pun memberikan target kepada reporternya sehari nulis 10-20 berita. Imbasnya, mereka bekerja memenuhi target berita, tak mempedulikan kualitas dan kredibilitas narasumber. Sedangkan mengenai logika penulisan berita, menurut Iwan, hal itu bisa dapat ditempa oleh pengalaman, selama kantornya peduli dengan para reporternya dan mau memberikan ilmu kepada para reporter seperti membuka kelas penulisan.

Pada akhirnya, untuk tingkat manajer sekalipun, training adalah solusi yang paling tepat supaya hasil pekerjaan bisa jadi jauh lebih baik dari waktu-ke-waktu. Seringkali perusahaan melupakan ini. Karyawan – dalam hal ini reporter dan jurnalis – tidak memiliki bekal yang cukup untuk terjun ke lapangan. Learning by doing memang baik. Tapi untuk bisa memulai suatu pekerjaan tentunya harus memiliki ilmu dasar yang harus terus dikembangkan. Pelatihan kompetensi juga baik untuk mengukur kemampuan seseorang dalam melakukan tugasnya.

Seseorang harus terus mau belajar dan jangan pernah berhenti belajar. Membaca buku dan menonton film adalah cara-cara sederhana untuk memperluas pengetahuan. Training, jangan so’ pinter! ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s