#1 Jakarta – Hilversum via Amsterdam

Setelah melewati segala macam persiapan untuk berangkat ke Belanda, akhirnya saya sampai juga ke tanggal 27 September 2013 tanpa kekurangan suatu apapun. Pesawat Garuda Indonesia GA 088 berangkat jam 19.20 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Orangtua saya keukeuh ingin ikut nganterin ke airport, padahal kalau pakai travel pun saya akan baik-baik aja. Tapi namanya juga orangtua, anaknya mau pergi jauh walaupun cuma 3 minggu, ya harus dianterin sampai ke airport.

Seminggu sebelum tanggal keberangkatan – sesuai dengan jadwal yang dijanjikan – saya menerima Pre-Course Letter dari RNTC. Di dalam surat itu dijelaskan secara rinci tentang dimana saya harus menunggu sesaat setelah sampai di Amsterdam Schiphol Airport, overview materi broadcasting management yang akan saya pelajari mulai 30 September sampai 11 Oktober di Hilversum, dan jadwal kegiatan untuk sehari sebelum kelas training dimulai. Saat menerima e-mail dari Production Officer RNTC Mrs. Petra de Niet, saya lagi di kantor, duh senangnya minta ampun! Saya baca berkali-kali untuk memastikan ngga ada yang terlewat. Di e-mail itu juga terlampir form yang harus saya isi untuk menjelaskan tentang masalah manajerial yang akan saya ‘bawa’ ke RNTC dan dicarikan solusinya disana.

Well, it’s time for packing! But you know what… Saya ngga punya koper! Hahaha! Sesuai dengan info dari Production Officer RNTC tentang cuaca di Hilversum, saya dianjurkan untuk bawa coat, syal, dan payung atau ponco. Meskipun masih jauh menuju musim dingin dan sudah jauh melewati musim panas, tapi cuaca di Hilversum cenderung dingin dan hujan di pagi hari, dengan suhu minimal 5 derajat Celsius setiap harinya. Buat manusia-manusia dari tempat yang dilalui garis Khatulistiwa, suhu 5 derajat Celsius akan menjadi masalah! Karena saya ngga akan membiarkan diri saya sakit kedinginan, maka saya keluarkan koleksi coat dan syal yang saya punya, kemudian saya masukin beberapa diantaranya ke koper, bersama dengan beberapa kemeja, jeans, t-shirt, sepatu, dan barang-barang lainnya.

Beasiswa dan Koper untuk ke Eropa

Ada cerita lucu tentang koper yang saya bawa ke Belanda… Dua minggu sebelum berangkat, akhirnya saya nekat beli koper Rip Curl. Kenapa nekat? Selain harganya yang lumayan mahal, saya beli koper itu juga untuk mewujudkan impian saya hampir 2 tahun yang lalu. Saat pertama kali mendaftarkan diri untuk beasiswa ke RNTC, saya melihat koper besar yang dipajang di etalase toko di mall. Kemudian saya memotret koper tersebut dan berkata dalam hati ‘kalau saya berhasil mendapatkan beasiswa-nya dan saya berangkat ke Eropa, saya harus beli koper ini! Keren kalau saya jalan sambil bawa koper ini di Schiphol!’ Begitu… Yes, it’s ridiculous I know! But that was the thing that crossed my mind at that time.

Foto yang saya ambil 19 bulan lalu dari depan etalase toko. Caption-nya 'Future Bag' :)
Foto yang saya ambil 19 bulan lalu dari depan etalase toko. Caption-nya ‘Future Bag’ Hahaha!

Kemudian beasiswa itu berujung dengan kegagalan… Berkali-kali. Maka cuma tinggal foto kopernya yang masih ada di iPhone saya. Sampai 2 tahun berlalu, saya berhasil juga mendapatkan beasiswa RNTC 2013 di Eropa! Well, that thing just belongs to me! Akhirnya saya putuskan untuk membeli koper itu, dengan model yang mirip tapi warna yang berbeda.

And yes, I was walking at Schiphol airport dragging the suitcase just like what I imagined almost 2 years ago :’)

Travel-bag yang saya beli beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda
Travel-bag yang saya beli beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda.

Garuda Indonesia, the World’s Best Economy Class

Setelah pamitan sama orangtua saya yang nganterin sampai Terminal 2D bandara Soetta, sekira jam 6 sore saya memulai proses check-in. Jam 7 malam, saya boarding menuju pesawat airbus 330 Garuda Indonesia dengan tujuan Amsterdam. I said, here comes boredom! Perjalanan Jakarta – Abu Dhabi ditempuh selama 7 jam untuk transit selama 30 menit tanpa keluar dari pesawat. Euh, padahal saya udah nyiapin Dirham buat jajan di Abu Dhabi International Airport… Selama 7 jam penerbangan saya habiskan dengan tidur karena saya super tunduh alias ngantuk! Saya duduk di dekat lorong, duduk bersebelahan dengan bule yang sepertinya baru pulang dari Bali. Begitu pesawat mengudara, saya langsung bosen. Padahal ada banyak film yang bisa ditonton di monitor touch-screen. Akhirnya saya tidur melulu dan sesekali bangun kalau waktunya makan.

Menu makan malam di pesawat Garuda Indonesia
Menu makan malam di pesawat Garuda Indonesia.

Jam 1.43 pagi waktu Abu Dhabi tanggal 28 September 2013. Rasanya ingin cepet-cepet sampe dan tiduran di kasur. Kasuuuuuur! Kasuuuuuur! Tapi apa daya, setelah transit, saya masih harus melanjutkan 7 jam perjalanan menuju Amsterdam. Satu jam sebelum mendarat di Amsterdam, 28 September 2013 jam 06.33 waktu Eropa, 5 jam lebih lambat dari waktu Indonesia Bagian Barat. So, I came from the future anyway… Setelah 2 kali dikasih makan, 4 kali dikasih cemilan, dan 6 kali minta tambah minum teh panas, Alhamdulillah akhirnya saya hampir mendarat di Schiphol airport. Pemandangan matahari terbit di samping kanan saya kelihatan cantik banget! Warnanya oranye semu merah muda dan biru tua, dicampur abu-abu. Suhu di pesawat juga ngga terlalu dingin, saya merasa aman cuma pakai hoodie walaupun saya sempet bengek dan obat malah disimpen di koper. Stupid!

Oh, Schiphol!

And finally… I arrived at Amsterdam Schiphol Airport! Tepat jam 8 pagi waktu Amsterdam, saya turun dari pesawat disambut dengan suhu 8 derajat Celsius. What the fuck! Matahari udah terik sih tapi ngga berasa! Mirip di Lembang… Mamaaaaaa dingin :’( Setelah ambil koper di belt nomer 8, saya langsung menuju meeting point yang udah ditentukan RNTC untuk menunggu Media Taxi 19000, taksi yang akan mengantarkan saya ke Bastion Hotel, Guest House RNTC di Bussum, Hilversum. Jaraknya cuma 30 menit dari Amsterdam. Di Hilversum, saya akan memulai hari-hari saya, belajar di Radio Netherlands Training Center, RNTC.

Welcome to Amsterdam Schiphol Airport! It was 8 degree Celsius when I arrived :'|
Welcome to Amsterdam Schiphol Airport! It was 8 degree Celsius when I arrived :’|

Begitu keluar dari aiport, brrrrrrr… Dingin! Saya langsung menuju taksi yang dikendarai oleh seorang driver bernama Zach, yang berpenampilan rapi lengkap dengan jas dan dasi-nya. Perjalanan menuju Bussum benar-benar ditempuh selama 30 menit tanpa macet. Sesampainya di Bastion Hotel, saya disambut oleh 2 receptionist dan diantar ke kamar saya di lantai 2, dimana satu lorong diisi oleh semua partisipan RNTC dari seluruh dunia. Ada pintu khusus untuk menuju area yang saya tinggali di bagian Guest House, terpisah dari kamar-kamar lainnya di Bastion Hotel. Di ujung lorong juga ada Radio Room, ruangan khusus untuk partisipan RNTC, tempat untuk kami sarapan, nyuci baju, nyetrika, atau sekedar makan dan ngobrol-ngobrol. Di Radio Room juga ada satu komputer yang bebas dipakai bergantian oleh partisipan RNTC. Koneksi wi-fi super cepat juga tersedia di seluruh Guest House. Jadi saya bisa online di kamar atau di Radio Room. Perfect!

Suasana yang lumyan sibuk di terminal kedatangan Schiphol pagi itu
Suasana yang lumayan sibuk di terminal kedatangan Schiphol pagi itu.
Media Taxi 19000 yang menjemput saya di airport
Media Taxi 19000 yang menjemput saya di airport

Begitu sampai di kamar #54, saya langsung rebahaaaaaaan beberapa menit kemudian MANDI! Berhubung satu kamar hanya ditempati oleh satu orang, maka saya bisa dengan leluasa nyimpen baju-baju saya di lemari. Di meja belajar, udah tersimpan rapi tote bag RNTC lengkap dengan survival kit yang berisi semua hal yang penting diketahui selama saya tinggal di Hilversum dan menjalani training.

Tas berisi perlengkapan course dari RNTC dan kado berisi jaket dari Bastion Hotel Bussum :')
Tas berisi perlengkapan course dari RNTC dan kado berisi jaket dari Bastion Hotel Bussum :’)
Pemandangan dari kamar saya ke Bussum Zuid Station. Saya bisa mendengar suara kereta dari sini.
Pemandangan dari kamar saya ke Bussum Zuid Station. Saya bisa mendengar suara kereta dari sini.
Twin bed di Bastion Guest House yang saya tempati selama 2 minggu.
Twin bed di Bastion Guest House yang saya tempati selama 2 minggu.
My private bathroom.
My private bathroom.
Survival kit untuk pegangan selama menjalani course dan jadwal kegiatan hari pertama.
Survival kit untuk pegangan selama menjalani course dan jadwal kegiatan hari pertama.

Kebiasaan saya setiap kali sampai di tempat baru adalah jalan kaki menjauh dari tempat saya tinggal. That’s what I did on that sunny afternoon in Bussum! Berhubung saya belum pegang OV-chipkaart – kartu prabayar untuk menggunakan transportasi umum di Belanda – jadi saya putuskan untuk jalan kaki ke Bussum Centrum, cari makanan.

Bussum, a Beautiful and Small City

Jauh dari hiruk pikuk Amsterdam dan kota-kota besar lainnya di Belanda, Bussum adalah kota kecil yang cantik dan cocok untuk belajar. Jalanannya yang ngga terlalu besar, ngga terlalu banyak mobil, lingkungannya juga bersih, masih banyak hutan dan pepohonan yang rimbun, tapi harga barang dan makanan di Bussum cenderung lebih mahal karena kebanyakkan yang tinggal di kota ini adalah orang-orang kaya yang kerja di kota besar.

Bussum adalah pusat industri penyiaran di Belanda. Hampir semua media elektronik di Belanda berkantor pusat di Bussum, Hilversum. Jadi Bussum adalah ‘rumah’ untuk pekerja media massa di Belanda. Warga disini juga udah terbiasa bergaul dengan pendatang dari Asia dan Afrika yang belajar di RNTC karena kegiatan belajar-mengajar di RNTC udah ada selama hampir 40 tahun lamanya. Warga Bussum akan dengan ramah dan senang hati membantu kami – wajah-wajah berkulit eksotis – yang lupa jalan pulang hahaha!

Jalan raya di Bussum menuju ke Bussum Centrum.
Jalan raya di Bussum menuju ke Bussum Centrum.
Gereja terbesar di Bussum, dekat dengan pertokoan.
Salah satu bangunan gereja di Bussum, dekat dengan pertokoan.
Di sebelah kanan saya ada taman kota. Ini adalah bundaran jalan dekan Bussum Zuid Station.
Di sebelah kanan saya ada taman kota. Ini adalah bundaran jalan dekat Bussum Zuid Station.
Kawasan pertokoan di Bussum Centruum.
Kawasan pertokoan di Bussum Centruum.
Jalanan di Bussum Centruum yang ramah buat pejalan kaki dan pesepeda. Beberap kursi tersedia di sepanjang jalan.
Jalanan di Bussum Centruum yang ramah buat pejalan kaki dan pesepeda. Beberapa kursi tersedia di sepanjang jalan.
Saking bersihnya jalan, sampe kepengen guling-guling :')))
Saking bersihnya jalan, sampe kepengen guling-guling :’)))

Watch Out for the Bike!

Jangan tanya soal sepeda karena kamu bisa menemukannya di setiap sudut jalan! Kayaknya semua orang di Bussum – di Belanda juga maksudnya – punya sepeda. Tua, muda, laki-laki, perempuan, ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda, anak kecil, semua bersepeda! Jalur untuk sepeda juga dilengkapi dengan rambu-rambu khusus. Mobil juga takut sama sepeda! Budaya bersepeda di Belanda memang jempolan! Saya bahkan bisa menemukan perempuan muda yang berdandan super gaya lengkap dengan coat dan boots tinggi, asyik ngobrol di telpon sambil naik sepeda. Kemudian lain waktu, saya ketemu dengan bapak-bapak bersama 2 balita yang duduk manis di dalam keranjang, di atas sepeda. Ah, pokoknya sepeda dimana-mana!

'Parkiran' sepeda di pusat pertokoan di Bussum Centruum.
‘Parkiran’ sepeda di pusat pertokoan di Bussum Centruum.
Bike! Bike! Bike!
Bike! Bike! Bike!
Sepeda yang disimpan di depan bangunan apartemen.
Sepeda yang disimpan di depan bangunan apartemen.

Please, Take Your Time to Cross the Street

Selain sepeda, hal lainnya yang membuat saya terharu saat jalan-jalan di Bussum adalah saat saya menyebrang jalan. Di Bandung – di Indonesia umumnya – saya seringkali harus menunggu sampai bermenit-menit hanya untuk menyebrang jalan. Mobil-mobil sangt arogan dan ngga mau ngasih jalan untuk penyebrang jalan. Mau jalan kaki lewat jembatan penyebrangan, ngeri dijahatin orang karena sisi kiri-kanannya tertutup billboard, belum lagi banyak pengemis dan sampah di sepanjang jembatannya. Ah, pada intinya jalanan di Bandung ngga ramah untuk pejalan kaki dan penyebrang jalan.

Kemudian sore itu saya menyebrang jalan di Bussum, tepat di zebra cross. Ngga jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat ada mobil akan melintas. Dalam pikiran saya – seperti yang sering saya lakukan di Bandung – saya akan membiarkan mobil tersebut lewat duluan, barulah saya akan menyebrang jalan. Tapi pikiran saya salah! Mobil tersebut malah berhenti dan mempersilakan saya untuk jalan! No way! That was beautiful! Really! Hal seperti itu terus terjadi setiap kali saya menyebrang jalan. Mobil-mobil rela antri demi orang yang akan menyebrang jalan dan saya pun bisa leluasa berjalan di zebra cross tanpa harus tergesa-gesa, berlari-lari, atau diklaksonin pengendara mobil. Take your time to cross the street.

I Should Sleep. Like, Now!

Supermarket Albert Heijn yang paling terkenal di Belanda. Lengkap!
Supermarket Albert Heijn yang paling terkenal di Belanda. Lengkap!
Pick your wine here!
Pick your wine here!
Kejuuuuuuu!
Kejuuuuuuu!
Keranjang belanja yang sekaligus bisa diseret. Cocok buat yang pemalesan kayak saya tapi belanjanya sedikit :p
Keranjang belanja yang sekaligus bisa diseret. Cocok buat yang pemalesan kayak saya tapi belanjanya sedikit :p
Coffee for everyone at the supermarket!
Coffee for everyone at the supermarket!
Pasar di sekitar Julianaplein, Bussum.
Pasar di sekitar Julianaplein, Bussum.

Di Bussum Centruum, saya menemukan supermarket Albert Heijn. Senangnya! Saya belanja makanan dan jalan-jalan sebentar ke pasar di dekat supermarket, kemudian langsung kembali lagi ke Guest House.  Sore itu saya langsung tidur kecapean dan sakit kepala, kemudian bangun jam 4 pagi besok harinya. Tidur 12 jam ternyata lumayan bisa mengembalikan tenaga saya. Dalam keadaan masih jetlag karena berasa bangun jam 9 pagi, saya jalan-jalan keluar Guest House. Waktu itu masih jam 7 pagi dan matahari baru akan terbit sekira jam 7.30 tepat di depan jendela kamar saya. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s