Eropa, Lyon, dan Kurma Algeria

Sungai Rhone di Lyon. Bersih dan udara siang itu lumayan sejuk
Sungai Rhone di Lyon. Bersih dan udara siang itu lumayan sejuk

Welcome to Lyon!

Sepulang dari Eropa beberapa bulan lalu, ternyata menyisakan perubahan yang begitu mendasar dalam kehidupan saya. Selain akhirnya menyadari bahwa pekerjaan saya sebelumnya tidak layak untuk dipertahankan, saya juga menemukan cahaya yang begitu terang dalam hubungan saya dengan Dia yang Maha Pencipta. Cahaya itulah yang akhirnya menjadi kekuatan ketika saya mencapai titik terendah dalam hidup.

Perjalanan ke Eropa selama tiga minggu waktu itu bukanlah tanpa tujuan. Saya adalah jenis manusia yang tak punya cukup dana untuk liburan di Amsterdam atau menikmati sore di bawah La Tour Eiffel di Perancis. Beruntunglah beasiswa short-course dari lembaga training radio internasional di Hilversum, Belanda, menjadi jalan yang begitu mulus sehingga saya bisa menginjakkan kaki di Eropa. Meskipun short-course hanya berlangsung dua minggu, tapi saya memutuskan untuk extend karena transportasi Amsterdam – Jakarta sudah masuk ke dalam paket beasiswa. Pertimbangan saya saat itu, saya harus jalan-jalan walaupun ngga banyak negara yang bisa dikunjungi, karena saya tau, saya ngga akan mungkin kembali lagi ke Eropa dalam waktu dekat.

IMG_8329
La Tour Eiffel di Paris

Sisa 7 hari yang dimiliki sebelum kembali lagi ke Indonesia, saya manfaatkan untuk mengunjungi seorang teman di Lyon, Perancis. Teman saya ini adalah sepasang suami istri bernama Anissa dan Mohammed. Saya pertama kali bertemu mereka pada April 2010 di dalam kereta api Bisnis Surabaya – Banyuwangi yang sedang mogok dalam perjalanan menuju Bali. Setelah pertemuan yang berakhir di Kuta hampir tengah malam itulah kali terakhir saya ngobrol dan melihat mereka ketika turun dari taksi. Setelah itu kami hanya berkomunikasi melalui Facebook, terutama dengan Anissa. Ngga banyak yang saya ketahui tentang Anissa dan Mohammed selain mereka adalah muslim Perancis, karena waktu itu kami ngga terlalu banyak ngobrol tapi pertemuannya sangat berkesan. Saya masih ingat di tengah-tengah udara panas Banyuwangi, mereka berdua bilang, “Sheisa kalau nanti kamu main ke Eropa, kabari kami. Kamu harus main ke Lyon. It’s going to be a treat from us!” Dan percaya atau tidak, mereka menepati janjinya…

Setelah selesai dengan urusan short-course, segera saya kabari Anissa kalau saya akan menuju ke Lyon. Saya bilang, saya akan berangkat ke Paris dari Amsterdam hari Sabtu (12/10) pagi dan akan cari tiket kereta ke Lyon Sabtu sore. Tanpa disangka-sangka, sehari sebelum tanggal keberangkatan, saya menerima e-mail dari Anissa dengan sebuah attachment berupa e-ticket Paris – Lyon seharga 54 Euro! Jazzakallah… Padahal saya sama sekali ngga minta dibelikan tiket itu. Ya kali ah… 54 Euro mahal juga ya mengingat harga tiket bis Eurolines Amsterdam – Paris yang saya beli hanya seharga 23 Euro. Saya semakin bersemangat untuk berangkat ke Perancis! Ditambah lagi saya akan merayakan Idul Adha di Lyon!

Sesampainya di Paris, saya ngga punya banyak waktu untuk jalan-jalan karena jadwal kereta menuju Lyon sangat mepet. Dari Porté Bagnolét, saya langsung menuju stasiun kereta Gare de Lyon. Setelah melewati segala macam ke-chaos-an dan merasakan ‘kejamnya’ Paris Métro, akhirnya saya sampai juga di Lyon tepat jam 8 malam. Karena saat itu Anissa masih kerja, maka kedua sepupunya yang menjemput saya di stasiun kereta Lyon Part Diéu setelah nama saya disebut-sebut melalui mikrofon ke seantero stasiun.

Ke-chaos-an di Gare de Lyon, stasiun kereta api di Paris
Ke-chaos-an di Gare de Lyon, stasiun kereta api di Paris
Pemandangan dari atas kereta SNCF dalam perjalanan Paris - Lyon
Pemandangan dari atas kereta SNCF dalam perjalanan Paris – Lyon

Saya lumayan deg-degan waktu hampir sampai di apartemen Anissa dan Mohammed karena pertemuan itu akan menjadi pertemuan kami yang kedua setelah 2010. Di depan pintu apartemen yang terbuka, saya mengucapkan salam dan muncul lah Mohammed. Membalas salam dan menjabat tangan saya. Ramah, menyenangkan, sama seperti waktu itu dia minjem handphone saya untuk nelpon resepsionis hotel di Bali. Saya lumayan kaget ketika saya melihat penampilannya yang memakai gamis warna putih dan janggutnya yang panjang. Seketika saya seperti ngga lagi berada di Perancis… Saya langsung berpikir jangan-jangan Anissa sekarang sudah berhijab? Tapi ternyata ngga. Waktu saya, Mohammed, dan sepupu-sepupunya menjemput Anissa di kantornya, dia ngga berhijab. Hanya saja pakaiannya sangat tertutup dan sehelai scarf melilit di lehernya. Saya hampir aja lupa dengan rupa dari pasangan ini… Pertama kali ketemu di Bali, kemudian ketemu lagi di Perancis 3 tahun kemudian! Subhanallah! :’)

Saya menghabiskan 4 hari di Lyon, bersama Anissa dan Mohammed, juga Ibunda-nya Anissa yang tinggal di apartemen itu. Ngga terlalu banyak kegiatan yang saya lakukan selama di Lyon. Tapi saya betah banget! Jadi walaupun cuma diajak jalan-jalan ke pasar atau mengantar Ibu-nya Anissa kerja ke rumah sakit, saya seneng minta ampun! Selama 4 hari itu saya menghabiskan banyak waktu di apartemen. Duduk di dapur, masak, lalu makan. Kebetulan, Anissa juga lagi cuti. Jadi kami banyak ngobrol tentang pekerjaan, tentang agama, dan tentang apa yang kemudian terjadi setelah pertemuan pertama kami di Bali.

Kesibukan pagi hari di dapur apartemen Anissa
Kesibukan pagi hari di dapur apartemen Anissa
Roti khas Algeria untuk sarapan. Enak!
Roti khas Algeria untuk sarapan. Enak!

Setelah berkali-kali ngobrol tentang banyak hal, akhirnya saya menyadari kalau Anissa dan Mohammed adalah pasangan muslim Perancis asal Algeria yang sangat taat. Meskipun saya ngga mendengar suara adzan karena mesjidnya jauh dari apartemen, tapi Mohammed punya jadwal shalat yang ditempel di lemari. Mereka berdua selalu shalat tepat waktu. Suatu waktu, saya diajak jalan-jalan ke Old Lyon hanya berdua dengan Anissa. Kami pergi sekira jam 11 pagi. Anissa berpesan, “Sheisa sekarang kita jalan-jalan tapi nanti kita harus pulang lagi ke apartemen sebelum jam 2 ya…” Maksudnya adalah supaya kami tidak melewatkan waktu Dzuhur dan shalat tepat waktu di rumah. Akhirnya saya paham kalau mereka akan bepergian, maka harus menyesuaikan dengan jadwal shalat. Sebisa mungkin pergi sebelum atau sesudah shalat supaya bisa ibadah tepat waktu di rumah mengingat sulitnya menemukan mushala di tempat-tempat umum di Lyon. “Yes, Sheisa. It is very hard being a moslem in Lyon.” kata Anissa suatu sore di dapur sambil makan roti khas Algeria.

Lain lagi cerita tentang Ibunda Anissa. Beliau ngga bisa bahasa Inggris dan saya ngga bisa bahasa Perancis. Maka komunikasi saya dan beliau menggunakan bahasa tubuh. Seriusan! Kalau beliau menangkupkan kedua tangan dan menempelkannya di sebelah pipinya sambil tersenyum hangat, artinya beliau bertanya “Do you sleep well?” yang akan saya jawab dengan “Oui! Oui!” dan anggukan penuh semangat. Bahasa isyarat lainnya yang digunakan Ibunda Anissa untuk ngobrol dengan saya adalah “Sheisa …………… shalat?” dan “Sheisa …………… wudu?” yang artinya “Sheisa sudah shalat?” dan “Sheisa sudah wudu?” Selalu seperti itu. Akhirnya selama di Lyon, saya ngga pernah ketinggalan shalat meskipun saya ngga mendengar suara adzan

IMG_8244
Saya dan Ibu-nya Anissa sesaat sebelum saya kembali ke Paris pagi itu

Sehari sebelum saya kembali ke Paris, Anissa ngajakin saya jalan-jalan ke Lyon Part Dièu, mall besar di tengah kota Lyon yang menyatu dengan stasiun kereta. Berhubung acara jalan-jalan kali itu akan lama, maka Anissa mengingatkan saya untuk bawa mukena karena kami akan shalat Dzuhur di mall. Selama saya jalan-jalan keluar masuk toko, saya berpapasan dengan puluhan orang dan menemukan beberapa diantaranya perempuan-perempuan berhijab yang ngga segan tersenyum dan mengucapkan salam pada saya. Jadi meskipun saya ngga mengerti bahasa Perancis, tapi ketika mereka mengucapkan ‘Assalamualaikum…’ saya tau harus menjawab apa dan apa arti dari kata itu. Subhanallah!

“One more shop and we have to do Dzuhur,” kata Anissa. Setelah selesai di toko terakhir, kami bergegas turun menuju ke (yang saya pikir itu) mushalla yang letaknya di ujung, sejajar dengan toko-toko lainnya. Ruangannya ngga terlalu besar. Lantainya dilapisi karpet warna hijau tua. Ada meja dan kursi-kursi disitu. Karena saya pikir itu mushalla, jadi pandangan saya langsung tertuju pada jajaran buku-buku tentang Islam. O, ada perpustakaan juga. Begitu pikir saya. Tempat untuk shalat terpisah di ujung ruangan dengan penyekat. Sempit, hanya muat untuk berenam. Ada tumpukan sajadah di sudut. Di luar sekat, ada rak sepatu. Hanya saja ngga ada tempat wudu.

IMG_8220
Prayer Room di mall Lyon Part Dieu
IMG_8219
Sudut menuju tempat shalat di Prayer Room
IMG_8217
Perpustakaan kecil di tengah-tengah Prayer Room

“Anissa, I’m surprised there’s a mushalla inside this mall…” kata saya seusai shalat. Pede!

“Sheisa, this is not a mushalla. This is prayer room for every religion. Christian, Jewish, Muslim, any of them. If they need a quiet place to pray, they will go here.” Anissa menjelaskan. Kemudian saya baru menyadari kalau perpustakaan di tengah-tengah ruangan ngga cuma menyediakan buku-buku dan informasi tentang Islam, tapi juga agama-agama lainnya. Tempat itu terlihat seperti mushalla karena hanya umat Muslim yang memiliki jadwal pasti untuk berdoa di tempat itu. Maka banyak umat Islam yang shalat di prayer room 5 kali sehari. Maka ngga heran kalau suatu kali, Anissa pernah shalat bersebelahan dengan umat Yahudi yang lagi berdoa di prayer room.

Acara jalan-jalan siang itu juga bukan tanpa godaan. Selama di mall, saya melihat banyak sekali makanan enak! Padahal saya dan Anissa lagi puasa sunnah. Bukan cuma godaan berupa makanan, tapi juga pemandangan. Alhamdulillah saya berhasil melewati semuanya. Saat waktunya berbuka puasa sekira jam 19.30 malam, di apartemen hanya tersedia teh dan kurma Algeria yang gendut-gendut. Padahal kan saya ngga suka kurma… Hehehe! Mau ngga mau saya harus mengikuti kebiasaan keluarga Anissa. Alhasil, selain menjadi pengalaman pertama puasa di luar negeri, saat itu juga menjadi pengalaman pertama saya makan kurma.

Au gratin for dinner
Masak Au Gratin dan ayam panggang untuk berbuka puasa

Akhirnya tiba waktunya untuk merayakan Idul Adha. Ini adalah kali pertama saya merayakan hari besar di luar negeri bersama keluarga muslim dengan latar belakang budaya yang berbeda. I was just too excited! Tapi seorang teman di Indonesia pernah bilang, “Lo kenapa Idul Adha sama temen lo di Lyon? Ke KBRI aja…” Lah, ngapain jauh-jauh ke Lyon kalau Idul Adha-nya sama orang Indonesia juga… Maafkan kalau ngga berkenan dengan pertimbangan saya ini. Karena saya ingin punya pengalaman yang berbeda.

Dan bener aja! Pagi-pagi sekali saya, Anissa, dan Mohammed sudah siap menuju lokasi shalat Ied. Bukan di mesjid yang lokasinya jauuuuuuh sekali dan kami ngga punya cukup waktu untuk menuju kesana, melainkan sebuah gymnasium yang disewa oleh komunitas muslim Lyon untuk kegiatan keagamaan. Di sepanjang perjalanan, Mohammed ngga henti-hentinya mengumandangkan takbir. Sesampainya di lokasi shalat, sayup-sayup dari kejauhan saya mendengar suara takbir. Puluhan orang berjalan beriringan menuju gymnasium untuk melaksanakan shalat Ied. Beberapa dari mereka ada yang melihat saya dengan tatapan heran, tapi ada juga yang mengucap salam, atau beramah-tamah menyapa ‘bonjour!’. Perasaan saya campur aduk begitu masuk ke area shalat. Saya mendengarkan suara takbir dan melihat orang lalu-lalang bersiap untuk shalat. Saya takjub berada di tengah-tengah mereka, muslim di Lyon yang jumlahnya ngga terlalu banyak. Dalam hati, saya ngga berhenti berdoa dan mengucap syukur. Baru di Perancis aja udah meleleh hati, apalagi kalau bersimpuh di depan Ka’bahSubhanallah! Insya Allah… Dan satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah bahasa Perancis yang menjadi kendala buat saya, tapi ketika shalat, kami menggunakan bahasa yang sama. Pujian dan doa untuk Allah SWT.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan kepribadian saya yang berbeda dari sisi agama. Dulu, biasanya saya selalu mepet-mepet kalau shalat. Dzuhur setengah 3. Ashar setengah 6. Maghrib setengah 7. Suka-suka hati! Tapi setelah menjalani 4 hari di Lyon, saya merubah kebiasaan itu. Begitu mendengar adzan, saya usahakan langsung shalat. Ada mesjid, langsung shalat di mesjid. Lagi di stasiun, shalat di mushalla. Sebisa mungkin ngga menunda shalat. Saya sungguh paham bahwa ibadah saya masih sangat jauh dari sempurna, tapi saya berusaha.

Kalau di Perancis, Anissa dan Mohammed bisa selalu shalat tepat waktu hanya berpegangan pada kertas jadwal shalat, kenapa saya harus menunda-nunda shalat sementara saya bisa selalu mendengarkan merdunya suara adzan 5 kali dalam sehari….

Kalau di Perancis, Anissa dan Mohammed begitu kesulitan mencari mesjid dan mushalla kalau lagi jalan-jalan, kenapa saya harus menunda-nunda shalat sementara saya bisa menemukan mesjid di sudut jalan sampai ke gang kecil dan mushalla yang nyaman di pusat perbelanjaan…

Percayalah, menjadi muslim mayoritas itu sungguh memudahkan dan punya kemungkinan yang besar untuk menjadi lalai. Tapi saat menjadi muslim minoritas, sungguh menyulitkan namun punya kemungkinan yang besar untuk menjadi taat. Insya Allah… ***

Suasana shalat Ied di gymnasium

20131231-053402.jpg

Khutbah dengan bahasa Perancis. Walaupun ngga ngerti, tapi saya tau isinya indah. Setelah shalat, Anissa menjelaskan.

20131231-053337.jpg

Anissa Salmi. My friend, my family

P.S ada sedikit tambahan cerita dari teman saya yang sekarang tinggal di Brazil:


“I feel you Ceca! Been there done that! Waktu saya training 2,5 bulan di Perancis, panduan berupa jadwal solat harus selalu dibawa dalam bentuk print kertas excel yang di-download dari web Islamic Finder. Kiblat pocket yang dibeli dari Gramedia pun kudu selalu dibawa, in case mengunjungi rumah teman dan ingin mencari arah kiblat. Lalu di tempat training pun alhamdulilah disediakan yang namanya ‘Meditation Room’ besarnya mungkin sekitar 3×3 meter persegi dan fungsinya sama dengan yang diceritain kamu, itu untuk semua agama tapi seringnya sih dipake oleh muslim yang mau solat biasanya orang Maroko, Algeria, Tunis, atau Arab dan tentunya ngga disediain tempat wudu. Wudu-nya di tempat cleaning service nyuci kain pel! Hahaha…

Tapi kerasa bener nikmatnya shalat dibanding saya kalo sedang di negeri sendiri yang mayoritas muslim. Jangankan tepat waktu, kadang subuh aja masih suka bablas *ampun gusti* Dan sekarang oleh Allah dikasih tempat untuk mengais rejeki di negara yang bener-bener minor muslimnya. Jadi kalau saya dan suami berpergian dalam jarak yang cukup jauh dan ngga memungkinkan di qada di tmpt tujuan atau tempat keberangkatan, jadi kami suka shalat di taksi. Supirnya kadang ngeliatin dengan penasaran, apalagi teteh belum pake jilbab, terus tiba-tiba pake mukena di dalem taksi sambil melakukan gerakan shalat. Tapi alhamdulillah ngga pernah ditanya-tanya sama supir-supir itu. Mereka ternyata menghormati dan ngga kepo pengen nanya-nanya. Hahaha!”

Advertisements

One thought on “Eropa, Lyon, dan Kurma Algeria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s