Karena Mungkin Dinda harus Cari Pacar…

BZSI6J6CEAATC5R

Seharian ini, timeline di Path diramaikan oleh sebuah celoteh dari seorang perempuan yang keberatan untuk berbagi tempat duduk di kereta dengan ibu hamil. Seperti ini katanya:

Dinda oh Dinda...
Dinda oh Dinda…

Dianggap ngga punya empati, egois, dan ngga sopan, maka tulisan singkat-nya itu menjadi viral seketika, bahkan sampai ke Twitter.

Anyway, Path diciptakan untuk berbagi momen hanya dengan maksimal 150 orang terdekat. Maka kalau diperhatikan, sering sekali ada obrolan-obrolan yang sifatnya pribadi dan cenderung bebas di Path karena dirasa 150 orang yang menjadi teman disitu, bisa dipercaya. Tapi dalam kasus Kak Dinda ini, saya justru melihat kalau dia harus lebih hati-hati saat menulis apapun di Path karena ternyata ada satu-dua orang temannya yang meng-capture dan menyebarkan ‘curhatannya’ itu. Kalau bukan orang yang berteman dengan Kak Dinda di Path, lalu siapa yang bisa menyebarluaskan tulisannya? The truth hurts… Ngga semua teman bisa dipercaya, meskipun udah dipilih hanya jadi 150 orang.

Apa yang akan kamu lakukan kalau menemukan hal serupa di timeline Path kamu? Capture, lalu sebarkan? Atau kirim personal message dan kasih tau kalau tulisannya ngga appropriate? Kalau kamu teman yang baik, bisa dipercaya, dan ngga punya niat buruk, akan ambil pilihan kedua. Fake friends does exist, but true friends are also standing around you

Bahkan setelah Kak Dinda tau kalau tulisanya di Path menyebar luas dan dia memberikan komentar, lebih parah lagi! Di-capture lagi, disebarin lagi. Seperti ini pembelaannya:

proxy
Pembelaan yang makin menjerumuskan

Jadi pembelajarannya, harus lebih hati-hati saat mengutarakan pikiran, terutama untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan sosial. Sekesal apapun, kalau udah ngga tahan ingin ditulis di social media, maka tulislah dengan rapi. Pilih kata-kata yang tepat. Pakai rasa. Karena kenyataannya, ngga semua orang bisa menerima dengan baik pendapat kita, bahkan orang-orang terdekat sekalipun!

Satu hal lagi, kalau ngga mau dipusingkan dengan urusan jalan yang macet dan berdesakan di kendaraan umum, cari tempat tinggal dekat kantor. Toh biaya untuk sewa kost hampir sama dengan ongkos naik kendaraan umum per bulan kan? Maklumin aja, namanya juga Jakarta.

Atau mungkin, Kak Dinda harus cari pacar… ***

*) Sepenuhnya saya ngga setuju dengan pendapat Dinda. Mau bagaimanapun juga, ibu hamil selalu jadi prioritas untuk dapat tempat duduk di kendaraan umum. Tapi setidaknya dengan punya pacar, Dinda bisa minta antar-jemput. Atau kalau dia ingin mengeluh, pacarnya akan jadi orang pertama yang mendengarkan sebelum akhirnya dia lupa untuk ngomel di social media.

Advertisements

13 thoughts on “Karena Mungkin Dinda harus Cari Pacar…

  1. Udah ada pacarnya. Ada postingan di path pacarnya yg meminta maaf dan dinda komen minta maaf dg bahasa yg cukup ajaib dan itu di-capture juga!

  2. Pernah dengar satu ungkapan : ” jangan sampai emosimu membakar dirimu”. Bukan hanya melontarkan kekesalan di socmed tapi juga di depan orang lain. Mulutmu harimaumu memang bukan sekedar pepatah atau ungkapan tapi peringatan bahwa kita harus menjaga ucapan kita atau akhirnya nyesal udah emosi luar binasa. Penyesalan selalu datang terlambat. Eh pacar kak dinda datang terlambat ga :)

  3. Keren nih artikel, gw juga kurang setuju ama pembelaannya apapun alasannya…mendingan kost ajah kalo gak mau cape kaya gitu.Toh si ibu hamil itu juga harus ngurus rumah, ngurus suami dan garis bawahi masih harus kerja buat bantu biaya kelahirannya.Kalo cuma bangun jam 5 dan ngangkot juga naek kereta, hampir semua org kerja di Jakarta seperti itu, gak cuma Dinda dooonk.Ade gw namanya Dinda jugaaaa, dan lo mau tau Dindaaaa dia berangkat jam berapa dr rumah untuk sampe ke kantornya jam 4.20 menit tepat setelah selesai shalat subuh.Jd, jangan merasa yg paling cape yaaaa.

    Semoga semakin bijaksana dengan kejadian ini si Dinda.

    1. Hai, Sekar! :) Terima kasih udah baca tulisan saya. Saya terbilang masih baru tinggal di Jakarta, belum sebulan. Dan saya sangat salut sama teman-teman yang rela berangkat subuh untuk bekerja, ditambah lagi pakai kendaraan umum. Ngga ada yang harus dikeluhkan soal itu karena udah jadi resiko, bukan? Yang namanya kerja. ngga ada yang ngga cape :) Mudah-mudahan kita selalu bersemangat ya! Salam kenal…

  4. gw termasuk orang yang simpati sama si dinda. mungkin kesalahan si dinda adalah dia nulis status di path. selain si dinda, ada puluhan orang yang duduk di kereta itu. dan gw yakin, mayoritas orang indonesia kayak gitu. pada munafik aja.

  5. Hehe, jadi kepingin ikut komen. Tapi bener banget ya, jadi insecure sama orang2 sekitar yg katanya temen tapi menjerumuskan. Hal kaya gitu kan harusnya jadi keluhan sambil lalu saja. Eeh, harus nyebar dengan cara gak enak begitu. Satu lagi, tanpa ada pembelaan ke Dinda, ada baiknya ibu hamil jangan maksa masuk krl jam sibuk kali ya. Saya aja yg gak hamil ga kuat desak2an. Kasian juga bayinya kalo kenapa-napa. Tapi kalo ada alasan urgent yg memang mengharuskan dia naik krl jam sibuk, sekitar jam 7-8, yaa apa boleh buat. Memang seharusnya kan kita yang masih kuat dan diberi kesehatan ini yg ngalah :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s