Menstrual Leave Does Exist in Indonesia

Women Menstrual Leave | Picture taken from here
Women Menstrual Leave | Picture taken from here

Cuti haid atau menstrual leave bagi perempuan pekerja di Indonesia terdengar sangat asing. Padahal, selain cuti melahirkan, cuti bersama, dan cuti untuk beribadah haji, cuti haid juga diatur oleh undang-undang dan menjadi hak bulanan bagi perempuan pekerja.

Saya adalah salah satu dari, mungkin, sekian banyak perempuan pekerja yang ngga pernah tau mengenai hak cuti haid. Selama hampir 5 tahun bekerja di beberapa perusahaan media massa, saya ngga pernah menerima informasi ini disampaikan oleh Human Resources (HR) atau tertera dalam kontrak kerja.

Dan Ming, Digital Produser Al-Jazeera English di London | Twitter @DanMing
Dan Ming, Digital Produser Al-Jazeera English di London | Twitter @DanMing

Berawal dari berita yang dibagikan di Twitter oleh salah seorang jurnalis Al-Jazeera English, akhirnya saya menelusuri berbagai informasi mengenai cuti haid bagi perempuan pekerja di Indonesia dan beberapa negara lainnya di Asia, seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Benarkah kami memiliki hak itu? Berikut kutipan berita yang ditulis Emily Matchar dan dipublikasikan oleh The Atlantic:

Indonesian women are entitled to take two days a month of menstrual leave, though many companies simply ignore the law, and others have been accused of forcing women to drop trou and “prove” their need for time off. This month, a delegation of female workers presses presidential candidates about workplace discrimination, including menstrual leave abuses.

He suggested me to do 'fact check' and I did!
He suggested me to do ‘fact check’ and I did!

I thought the joke was on me! Ternyata memang kenyataannya banyak perusahaan yang ngga mematuhi peraturan cuti haid bagi pekerja perempuan. Saya malu deh pengetahuannya minim sekali mengenai hal ini… Padahal hak cuti haid diatur dengan jelas dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 81 ayat 1 yang menyebutkan bahwa perempuan pekerja/buruh yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua masa haid.

Kemudian dilanjutkan di Pasal 81 ayat 2 masih dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, bahwa pelaksanaan ketentuan dalam Pasal 81 ayat 1 diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Pengusaha juga tetap berkewajiban membayar upah apabila perempuan pekerja/buruh yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haid, tidak dapat melakukan pekerjaan.

Memperjuangkan hak cuti haid bagi perempuan | Picture taken here
Memperjuangkan hak cuti haid bagi perempuan | Picture taken here

Pada praktiknya, cuti haid diberlakukan berbeda-beda di tiap perusahaan. Bahkan ngga sedikit perusahaan yang cenderung menutup-nutupi informasi ini dan ngga mensosialisasikannya. Selain itu, tanggapan negatif pun berdatangan karena perempuan dianggap manja sampai harus meninggalkan kewajiban untuk bekerja selama dua hari setiap bulannya hanya karena haid. Meskipun gejalanya ngga selalu sama pada setiap perempuan, belum tau aja sakitnya bisa sampai sebadan-badan!

Alasan lain kenapa hak cuti haid bagi perempuan pekerja ngga pernah dijalankan dengan baik karena dianggap ada celah yang begitu besar untuk penyalahgunaan hak cuti tersebut. Jadi seringkali perusahan memberlakukan sistem yang begitu rumit bagi perempuan karyawan yang ingin mengajukan cuti haid, seperti harus melampirkan surat keterangan dokter bahkan sampai pemotongan upah.

Kalau di kantor kamu gimana? ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s