Karena Kehidupan Memang Harus Memilih

Apparently, today is my last day working full-time and part-time at Musica Studio’s Jakarta… Would you like to check out the story?

Memilih – apapun jenis pilihannya – selalu jadi hal yang ngga gampang buat siapapun. Termasuk saya. Setiap kali diajak pergi jalan-jalan sama temen, saya ngga pernah mau jadi orang yang memilih tempat karena semua cafe terlihat seru. Ujung-ujungnya ke Kopi Lamping lagi, ke Kopi Lamping lagi… Setiap kali makan sama temen, saya pasti bingung mau makan apa karena semua terlihat enak. Ujung-ujungnya makan nasi dan ayam goreng lagi… Setiap kali mau beli t-shirt, saya butuh waktu berjam-jam kebingungan karena ingin punya semua t-shirt tapi uang ngga cukup. Ujung-ujungnya beli t-shirt band metal lagi, band metal lagi…

Itu ketika saya dihadapkan sama hal-hal kecil, belum lagi ketika saya ada dalam situasi dimana saya harus memilih antara tetap tinggal dan bekerja di Bandung atau menjajal kemampuan di Jakarta. Galau-nya berbulan-bulan kak! Sampai harus ke Belanda dulu… Akhirnya, beberapa bulan setelah meninggalkan pekerjaan di Bandung, saya dapat kesempatan bagus untuk bekerja di Jakarta. ‘Dipinang’ sama perusahaan sebesar Musica Studio’s itu semacam once in a lifetime chance! Senang sekali!

Di bulan April, pindahlah saya ke Ibukota berbekal dua kopor dan beberapa buku. Saya tinggal di rumah kost seharga satu juta lima ratus per bulan yang lokasinya dekat dengan kantor. Setiap hari, saya jalan kaki 15 menit untuk sampai di gedung Musica Studio’s. Tinggal sendiri dan jauh dari rumah bukan hal baru buat saya, jadi saya ngga membutuhkan waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri melakukan semua hal sendirian. Dalam waktu satu bulan, saya udah hapal beberapa jalur busway dan kereta commuterline yang memudahkan saya kalau mau jalan-jalan.

Hampir dua bulan berjalan, perkerjaan saya di Musica Studio’s sebagai Social Media Strategist terasa menyenangkan karena saya bekerja dengan orang-orang cerdas dan pintar. Di tempat ini, saya merasa kemampuan saya diakui sepenuhnya dan diapresiasi secara maksimal, baik itu oleh manajer, rekan-rekan kerja, dan teman-teman band. Hambatan apapun yang saya hadapi dalam pekerjaan ini, jadi ngga terasa menyulitkan. Plus, Ibu Acin is such a sweet person anyway…

Saat semua berjalan normal – pekerjaan yang nyaman, teman-teman baru yang seru, kehidupan yang santai – datanglah sebuah e-mail yang menyatakan kalau saya diterima kuliah S2 di University of Westminster, Inggris. Deg! Ada apa lagi ini? Saya kembali dihadapkan pada pilihan: (a) Mengikuti kelas TOEFL Preparation untuk memenuhi persyaratan kuliah, (b) Tetap bekerja di Jakarta sambil ikut kelas TOEFL Preparation.

Sebelum saya memutuskan, saya mencoba untuk menjalani keduanya. Pagi sampai sore saya bekerja, kemudian malam hari dan weekend saya ikut kelas TOEFL Preparation. Hasilnya? Dadas, kak… Saya kecapean bukan main! Saya kehilangan kehidupan sosial dan jarang pulang ke Bandung. Setiap kali ada waktu luang dan main sama teman-teman, saya kehilangan konsentrasi. Inginnya pulang ke kosan, lalu belajar. Pas lagi di kantor pun begitu! Maunya buru-buru pulang, istirahat makan siang aja dipakai buat belajar. Saya sampai segitunya karena kesempatan kuliah ke Inggris ini udah saya tunggu dari bertahun-tahun yang lalu. Saya ngga ingin tahun ini gagal lagi.

Akhirnya saya putuskan untuk cerita sama manajer saya di kantor, saya kasih tau kondisinya seperti apa, sampai akhirnya beliau cuma bilang, ‘Shap, kalau lo merasa berat jalanin dua-duanya, berarti lo harus pilih salah satu. Lo pikirin baik-baik, kasih tau keputusan lo ke gue minggu depan. Ngga apa-apa, hidup itu memang harus memilih.’

Malam itu saya pulang ke kosan dengan perasaan yang ngga menentu. Tau kan? Galau-galau ngga jelas… Saya ngga bisa seneng, tapi saya juga ngga mau sedih. Jalan satu-satunya saat itu adalah shalat, nangis sampai ketiduran. Kuliah S2 di Inggris dan bekerja di Musica Studio’s adalah dua hal besar di hidup saya dan saya harus memilih salah satunya. Kebayang ngga? Ibarat kamu harus milih mau kencan sama Jared Leto atau sama Brandon Boyd? Susah!

Seminggu setelah ngobrol dengan manajer saya, akhirnya saya menemukan jawaban dari pilihan yang harus saya ambil. Saya bilang sama beliau kalau dengan berat hati, saya akan meninggalkan pekerjaan saya di Musica Studio’s dan akan fokus untuk persiapan kuliah S2. Konsekuensinya, saya harus pulang lagi ke rumah di Bandung karena kalau saya tetap di Jakarta mengandalkan uang hasil freelance menulis artikel, ngga akan cukup untuk membayar sewa kost dan lain-lain.

Deep down inside, saya merasa kalah. Baru juga tiga bulan pindah ke Jakarta, eh sekarang malah pulang lagi ke Bandung… Tapi ya sudah lah, sepertinya ini bukan soal menang-kalah. Harus ada pengorbanan untuk mendapatkan hal yang lebih besar, bukan?

Kemarin-kemarin saya sempat malu mau cerita tentang hal ini ke teman-teman terdekat, tapi akhirnya saya beranikan diri untuk membuka obrolan dan mengutarakan rencana saya. Beberapa orang ada yang terus-menerus mempertanyakan keputusan saya, ‘Kenapa sih Shap? Kenapa?’ Tapi sebagian besar lainnya memberikan dukungan dan pemikiran positif yang membuat saya tenang. Apapun yang terjadi, saya terima konsekuensinya.

So here I am now, getting ready to go back to Bandung by the end of June, with melancholic love-story I have ever had. My best friend once said to me, ‘Your life is such a full-speed roller coaster, Shap!’

Indeed. ***

Advertisements

One thought on “Karena Kehidupan Memang Harus Memilih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s