What Will Happened When You Take Friendship Personal?

Saya lupa apakah waktu 2010 istilah ‘friendzone’ udah terkenal atau belum. Seingat saya sih belum karena toh saya mengalami di-friendzone-in sama seseorang, tapi waktu itu ngga tau apa istilahnya. Kalau merujuk ke 9GAG, kurang-lebih ‘friendzone’ itu seperti ini:

Friendzone Sign #1
Friendzone Sign #1
Friendzone Sign #2
Friendzone Sign #2

Tau kan rasanya punya temen-dekat laki-laki yang ngga pernah bilang sayang, tapi saya bisa ngerasain dari sikapnya yang selalu kesal kalau saya kelupaan bawa jaket pas cuaca lagi sering hujan deras. Iya, laki-laki yang ngga pernah bilang sayang, tapi saya bisa tahu dari perhatiannya yang selalu ngingetin untuk makan kalau saya terlalu sibuk di kantor. Bilang sayang sih ngga pernah, tapi saya bisa melihat dari gerak-geriknya yang selalu khawatir kalau saya kelupaan bawa obat asma.

Temen sih, tapi ya begitu… Selalu ngasih kabar kalau mau pergi, sama-sama nyariin kalau salah satunya susah dihubungi atau ngga bales BBM. FYI, waktu itu belum musim WhatsApp dan LINE. Kalau weekend, pergi nonton konser. Jalan-jalan ke mall cuma buat makan es krim, ngobrol ketawa-ketawa, terus pulang. Kami adalah tipe pasangan (#eh) yang bisa menikmati duduk berjam-jam, berbagi earphone sambil dengerin lagu di iPod. Laki-laki ini adalah jenis temen-dekat yang rela hujan-hujanan buat beliin saya makanan dan rela pulang malem demi nemenin saya kerja. Temen sih, tapi ya begitu…

Pada akhirnya saya terbawa suasana. Ternyata ‘pertemanan’ seperti ini menyenangkan juga ya! Sial! ‘Dimana? Kalau udah sampe rumah, kabarin ya.’ adalah sebagian kecil perhatian yang ngga penting, tapi efek-nya lumayan besar. Kalau udah begini, saya menyerah dan mengakui kalau saya punya perasaan lebih sama laki-laki ini. Perasaan datang, karena terbiasa. Masing-masing merasakan hal yang sama, tapi ngga ada yang mau bilang. Atau mungkin ngga berani? Entahlah…

Sampai berbulan-bulan kemudian, setelah melewati masa-masa drama ini-itu, sampailah kami pada titik dimana ini semua udah ngga bisa dilanjutin lagi karena ternyata temen-dekat saya ini udah punya pacar. Iya, udah punya pacar. Rasanya ingin deh bilang ‘terus selama ini tuh kita apa ya?’ tapi kalimat itu ngga bisa keluar dari mulut saya.

“Maafin aku ya. Aku masih mau kita bareng, tapi aku ngga bisa. Aku ngga bisa kenal lagi sama kamu.” Gitu katanya. Sedih deh…

Malam itu adalah kali terakhir kami ngobrol. Februari 2011. Sampai sekarang, kami masih suka ketemu di beberapa acara, but we pretend that we didn’t know each other. Seriously, after all those pointless conversation and messages, we didn’t even say hello. If we were only friend, why were you leaving?

Dia adalah alasan kenapa saya terlalu suka sama lagu Taking Back Sunday yang The New American Classic. Dan dia juga adalah alasan kenapa di laptop saya ada film dokumenter-nya Sam Dunn.

2014, kami udah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Dia udah punya pacar baru, dan saya lagi berusaha keras supaya ngga terjebak dalam ‘friendzone-friendzone’ lainnya. Not a good sign!

#nowplaying The New American Classic – Taking Back Sunday

Just ask the question come untie the knot
Say you won’t care, say you won’t care
Retrace the steps as if we forgot
Say you won’t care, say you won’t care
Try to avoid it but there’s not a doubt
And there’s one thing I can do nothing about

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s