Di Jogjakarta dan Solo, Saya Kenyang!

Malioboro
Malioboro

‘Jogjakarta, the Neverending Asia.’

Buat saya, kemana pun tempat yang dituju untuk traveling selalu istimewa. Luar kota ataupun luar negeri, pasti punya cerita seru dalam perjalanannya, ngga terkecuali dengan short-escape saya beberapa bulan lalu. Memanfaatkan tanggal merah perayaan Hari Paskah, saya pergi ke Jogjakarta. Bisa dibilang, saya adalah solo-traveler. Kemana-mana kalau jalan-jalan ya sendirian. Tapi liburan kali ini, kebetulan adik sepupu saya, Dita Persia, punya rencana yang sama. Akhirnya, berangkatlah kami jam 7.25 WIB dari Stasiun Bandung dengan kereta api kelas bisnis seharga Rp 245.000 untuk sekali jalan. Karena semalaman saya ngga sempat istirahat di rumah, akhirnya saya menghabiskan hampir sepanjang perjalanan Bandung – Jogjakarta dengan tidur nyenyak.

Sampai di Jogjakarta sore hari, kami disambut hujan yang lumayan deras. Hotel yang sudah kami booking di Jalan Gandekan Lor No. 44, jaraknya ngga begitu jauh dari stasiun. Setelah berjalanan kaki menerjang hujan, akhirnya kami tiba di WakeUp Homestay, sebuah budget hostel yang menawarkan fasilitas dormitory untuk para backpacker. Kami memilih tinggal di kamar Single Female Pod untuk 4 orang seharga Rp 150.000/bed untuk 1 malam. Di hostel ini ngga ada lift, jadi untuk yang membawa tas ransel agak berat, siap-siap olahraga naik tangga ya! Kebersihan hostel ini terbaik. Sharing bathroom-nya juga sangat terjaga kebersihannya dan juga wangi. Toilet dan shower berada di bilik terpisah. Seprai dan selimut di bunk bed pun sangat bersih.

Lobby WakeUp Hostel Jogja
Lobby WakeUp Hostel Jogja
Hotel_Jogja (4)
Di area lobby juga merupakan tempat untuk self-servise breakfast. Panggang roti sendiri dan bikin kopi sendiri.
Hotel_Jogja (5)
Lobby dan juga tempat sarapan.
Hotel_Jogja (9)
Setiap bunk bed dilengkapi dengan colokan listrik dan lampu. Nyaman.
Hotel_Jogja (8)
Bilik shower di sharing bathroom.
Hotel_Jogja (1)
Sharing bathroom yang kering, bersih dan wangi.

Suasana yang nyaman, plus udara dingin di luar, membuat kami betah malas-malasan di bunk bed hostel. Setelah hujan reda sekira jam 7 malam, barulah kami bisa jalan-jalan menuju Malioboro untuk makan malam. Tadinya kami hanya akan cari-cari makanan di sekitaran Alun-Alun karena di malam pertama ini kami belum sewa motor. Tapi tiba-tiba penasaran juga ingin mencoba makan di House of Raminten. Berbekal Waze, akhirnya kami menuju House of Raminten di Jl. Faridan M. Noto. Tadinya mau naik taksi, tapi menurut Waze jaraknya cuma 2.5 kilometer dari Malioboro. Jadilah kami… Jalan kaki! Betapa riweuh-nya perjalanan kami malam itu, selain karena hujan gerimis, kami hanya punya 1 payung. Kami berbagi tugas: Kalau saya pegang payung, berarti Dita yang melihat jalan via Waze.

Setelah melewati banyak belokan, akhirnya kami tiba di House of Raminten yang sangat penuh. Rasanya ingin cari tempat lain, tapi kok tanggung banget. Setelah menuliskan nama di waiting list, kami menunggu sambil kelaparan dan kelelahan. Terdapat 2 buah kereta kencana di tempat kami menungggu. Menurut informasi, kereta kencana ini suka dipakai kalau ada acara khusus dan kandang kuda-nya ada di belakang restoran! Kurang lebih 1 jam kami duduk menunggu dipanggil, sebelum akhirnya bisa duduk dan memesan makanan. Ketika disodori buku menu, kami terkaget-kaget dengan harga makanan dan minumannya yang murah, antara Rp 5.000 sampai Rp 20.000! Setelah pesan, kami pun makan dan membayar bill sebesar Rp 81.000! Kebayang kan berapa banyak makanan yang kami pesan…

Jogja_Raminten (1)
Area waiting list di House of Raminten

Setelah kenyang makan malam, kami langsung memutuskan untuk pulang ke hostel. Besok harinya, kami sewa motor untuk jalan-jalan seharian sebelum naik kereta menuju Surakarta malam harinya. Hari berikutnya, kami makan siang di JeJamuran Resto di Kabupaten Sleman, Jogjakarta. Perjalanan selama 1.5 jam kami tempuh pakai sepeda motor yang kami sewa seharga Rp 50.000 untuk 24 jam. Perbekalan utama kami tetap sama: In Waze we Trust. Sesampainya disana, lagi-lagi kami harus mendaftarkan nama kami di kertas waiting list dan menunggu selama 45 menitan sebelum akhirnya bisa duduk dan memesan makanan.

JeJamuran Resto adalah sebuah restoran yang khusus menyediakan makanan olahan jamur. Lokasinya di Jl. Magelang KM. 11 Desa Niron, Pandowoharjo, Sleman. Semua makanan yang tersedia di restoran ini terbuat dari jamur karena Sleman merupakan tempat terbesar untuk budidaya jamur. Meskipun terbuat dari jamur berbagai jenis, tapi rasanya enak sekali! Sate jamur seharga Rp 10.000/porsi rasanya benar-benar menyerupai sate ayam lengkap dengan bumbu kacang dan kecap, hanya saja yang ditusuk adalah jamur.

Jogja_Jejamuran (4)
Selamat datang di JeJamuran Resto
Jogja_Jejamuran (6)
Suasana di antrian waiting list
Jogja_Jejamuran (3)
Menu: Sate jamur, Jamur bumbu rendang, jamur krispi, tongseng jamur, dan jamur pedas.
Jogja_Jejamuran (5)
Snack olahan jamur buat oleh-oleh
Jogja_Jejamuran (11)
Summer Breeze, minuman kesegaran jeruk dan sirup ditambah enoki mushroom

Jelang hari terakhir di Jogjakarta, saya dan Dita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Solo. Setelah kenyang makan di JeJamuran Resto, kami pun langsung meluncur ke Stasiun Tugu untuk membeli tiket KRL Prambanan Express jurusan Jogjakarta – Solo seharga Rp 8.000 untuk keberangkatan jam 8 malam. Sebelum check-out dari hostel dan mengembalikan motor, kami mampir dulu di Tip Top Ice Cream yang legendaris. Kedai es krim yang berdiri sejak tahun 1936 ini lokasinya di Jl. Mangkubumi, 200 meter dari Tugu Jogjakarta. Bangunan dan furnitur-nya masih asli dan bergaya retro. Pada jamannya, kedai Tip Top Ice Cream ini sering dijadikan tempat hangout orang-orang kaya dari Belanda. Es krim di kedai ini bebas bahan pengawet, jadi rasa es krim-nya sangat asli dan ngga bikin eneg.

TIPTOP Es Krim_Jogja (4)
Papan nama Tip Top Ice Cream yang masih asli dan terpajang di dekat pintu masuk
TIPTOP Es Krim_Jogja (3)
Suasana di kedai Tip Top Ice Cream
1 scoop es krim stroberi
1 scoop es krim stroberi

Tepat jam 8 malam lebih 15 menit, kami berangkat menuju Solo. Setelah sempat berdesakan di pintu masuk KRL, akhirnya kami berhasil menerjang kerumunan dan dapat tempat duduk. Perjalanan Jogjakarta – Solo ditempuh selama 45 menit. Ngga terasa lama karena kereta-nya bersih dan full AC. Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun kecil sebelum akhirnya sampai di Stasiun Solo Balapan. Kami dijemput oleh paman dan tante kami yang memang bekerja di salah satu hotel berbintang di Solo selama beberapa tahun ini, lumayan kan ada tempat menginap gratis sekaligus tour guide.

Sampai di Solo, kami ngga mau langsung ke hotel. Karena perut mulai lapar (lagi), akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di wedangan Omah Lawas di Jl. Dr. Supomo No. 55. Wedangan merupakan warung lesehan khas Solo yang menyajikan beragam makanan tradisional dan minuman spesial. Wedangan Omah Lawas ini berada di sebuah rumah dengan bangunan tua yang luas dan besar, sehingga di wedangan Omah Lawas juga sering dijadikan tempat pertemuan komunitas-komunitas di Solo.

Menu makanan di wedangan Omah Lawas yang membuat... KALAP!
Menu makanan di wedangan Omah Lawas yang membuat… KALAP!

Besok harinya, pagi dan siang sebelum kami pulang ke Bandung, kami melanjutkan jalan-jalan di Kota Solo. Bahkan sempat-sempatnya pula turun dari mobil dan berfoto di bawah patung Slamet Riyadi. Patung pahlawan nasional ini berdiri menjulang di Jl. Slamet Riyadi, jalan terpanjang di Kota Solo. Kami juga sempat mampir dan berkeliling Keraton Surakarta Hadiningrat, melewati Museum Pers Nasional yang membuat saya kegirangan, duduk-duduk menikmati cuaca cerah di depan Kantor Bank Indonesia Solo, dan mampir ke Solo Culinary Festival. Kami juga sempat makan siang di Es Masuk Gajahan di Jl. Yos Sudarso No. 233 dan mencicipi makanan tradisional bernama Selat. Ini adalah salad bergaya campuran Jawa – Belanda yang super unik!

Solo_Es Masuk (2)
Selat, salad ‘blasteran’ Jawa – Belanda
Solo_Es Masuk (6)
Es Masuk Gajahan
Menu di Es Masuk Gajahan
Menu makan siang di Es Masuk Gajahan
Solo_Es Masuk (3)
Musisi yang menyanyikan lagu-lagu kroncong di Es Masuk Gajahan
Patung Slamet Riyadi, Solo
Patung Slamet Riyadi, Solo
Solo (6)
Bergegas makan malam di Warung Nasi Gudeg dan Ceker Bu Yati sebelum pulang
Solo (5)
Ceker lezat di Warung Nasi Gudeg dan Ceker Bu Yati di Keprabon, Kampung Keprabon Tengah, Solo

Solo (7)

Solo (11)
Senja di Solo

Suasana yang tenang, jalanan yang rapi dan warga-warganya yang ramah, membuat kami betah betul berlama-lama di Solo. Tapi sayang kami harus segera pulang ke Bandung malam itu. Kalau bukan karena tumpukan pekerjaan di Senin pagi, mungkin kami akan extend beberapa hari. Jam 8 malam, kami pun bergegas menuju Stasiun Solo Balapan. Kereta menuju berangkat sekira jam 9 malam. Kami segera menuju Bandung. ***

‘Solo telah banyak berubah, tapi selalu teraba benang merahnya, ungkapan: Solo, ya tetep Solo. Kita bisa datang dan pergi ke Solo, tapi kita tak pernah bisa meninggalkannya’. ~ Kitab Solo.

Advertisements

One thought on “Di Jogjakarta dan Solo, Saya Kenyang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s