The Lost World of Siang Padang

20160309_064153
Undakan pertama Gunung Padang

Lagi, sebuah pekerjaan telah membawa saya ke sebuah tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tempat ini adalah Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Ini merupakan situs megalitikum bersejarah yang beberapa tahun belakangan hanya bisa saya baca ceritanya melalui berbagai tulisan di internet.

Agenda perjalanan saya kali ini akan dilakukan berbarengan dengan pembuatan live-video berjudul Padang Semesta, sebuah project yang digarap oleh teman-teman penggiat musik tradisional Karinding di Bandung bersama Sahabat Gunung Padang, komunitas lokal yang sangat concern terhadap keberadaan situs Gunung Padang.

Perjalanan Menuju Gunung Padang

Saya dan teman-teman memulai perjalanan dari pusat Kota Bandung pukul 9 pagi menggunakan kendaraan pribadi. Jarak sejauh -/+ 64 kilometer menuju Cianjur, ditempuh selama 3 jam 45 menit. Kemudian kami mengambil arah menuju Jalan Raya Cianjur – Sukabumi dan melanjutkan rute ke Tegal Sereh. Dari Cianjur menuju Gunung Padang, kami menempuh jarak sejauh 20 kilometer.

Jalan yang dilalui merupakan jalan di tepi bukit dengan pemandangan hijau perkebunan teh. Di beberapa tempat, kondisi jalan cukup terjal dan kondisinya kurang bagus. Sebetulnya lebih asik kalau perjalannya dijajal menggunakan motor trail. Lebih adventurous! Sesampainya di Gunung Padang, kami disambut gapura besar menuju lokasi wisata. Dari titik tersebut, kami masih melanjutkan perjalanan melalui 2 tanjakan pendek dan memarkirkan kendaraan di area dekat pintu masuk.

DSCN0363
Selamat Datang di Gunung Padang

Untuk masuk ke area wisata Gunung Padang, kami membayar tiket masuk Rp 2.000 per orang. Tiket tersebut didapatkan di loket tepat di samping kiri pintu masuk. Setelah itu, ada petugas yang akan memasangkan kain berwarna hitam sebagai samping yang harus terus dikenakan selama kita berada di area Gunung Padang.

Jika kita merujuk pada adat istiadat yang berlaku di Gunung Padang, terdapat sebuah tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang saat akan memasuki Gunung Padang. Pertama, kita harus mengenakan pakaian adat khas Sunda. Kedua, setelah dipasangkan kain samping, kemudian kita membersihkan diri dengan cara berwudhu atau mencuci muka di Sumur Cikahuripan yang berada tak jauh dari pintu masuk. Ketiga, meniti tangga buhun tanpa mengenakan alas kaki menuju undakan pertama Gunung Padang.

Tangga buhun ini merupakan tangga asli untuk menuju puncak gunung di ketinggian 885 mdpl. Anak tangganya tersusun dari bebebatuan andesit dalam berbagai ukuran, dengan tingkat kemiringan 40 – 45 derajat. Terdapat 485 anak tangga buhun yang harus dilalui untuk mencapai ke teras 1 Gunung Padang. Buhun adalah Basa Sunda yang berarti tua. Kalau merasa tak kuat untuk naik menggunakan tangga buhun, terdapat tangga lainnya yang bisa dilalui dengan mudah, meskipun jarak tempuhnya jauh lebih panjang dan mengitari bukit. Tangga ini merupakan beton buatan untuk mempermudah pengunjung yang tak kuat menaiki tangga buhun. Kedua tangga sudah dilengkapi pegangan di kedua sisinya.

20160308_134300
Tradisi memakai kain samping sebelum menaiki Gunung Padang
20160308_135111
Bersuci di Sumur Cikahuripan
123
Siap meniti tangga buhun

Saya sampai di Gunung Padang disambut dengan hujan yang sangat deras. Cuacanya gloomy dan mulai terasa dingin. Berhubung saya ngga kuat naik melewati tangga buhun, saya memilih untuk berjalan menaiki tangga beton. Saya berjalan perlahan karena tangganya licin setelah diguyur hujan. Sesampainya di teras paling atas Gunung Padang, saya dan teman-teman langsung mendirikan tenda di dalam tower yang ada di area puncak gunung.

Tanah setapak yang menjadi akses di sekitar lokasi tenda menuju teras gunung sangat licin karena basah. Begitu pula ketika saya berjalan menuju warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat, beberapa kali hampir terpeleset sampai harus minta tolong dipegangi saat berjalan melewati turunan. Saran saya, gunakan sepatu khusus hiking dengan alas yang anti-licin supaya lebih mudah untuk berjalan.

The Total Eclipse from 885 Metres above Sea Level

Karena hujan deras masih terus berlanjut sampai malam hari, proses syuting live-video Padang Semesta pun dihentikan sementara hingga tengah malam tiba. Ini adalah malam sebelum gerhana matahari total tiba pada jam 7 pagi keesokan harinya (9/3). Setelah berjibaku dengan udara dingin semalaman di tenda, saya bangun disambut matahari pagi yang sangat cantik! Tepat jam 7 pagi saat gerhana matahari total memulai prosesnya, cahayanya meredup untuk beberapa menit lamanya. Saya dan beberapa orang teman menikmati pagi hari di antara ratusan bebatuan yang tersusun rapi di Gunung Padang.

DSCN0337
Pemandangan puncak Gunung Padang di tengah hujan
20160309_060302
Sunrise di Gunung Padang
20160309_063849
Pagi setelah gerhana matahari total
20160309_072018
Membelakangi gerhana matahari

Menjelang siang hari, matahari kembali bersinar terik dan syuting live-video Padang Semesta dilanjutkan di teras pertama Gunung Padang. Dalam project ini, band karinding pop-tradisional The Devil and the Deep Blue Sea membawakan 6 lagu ciptaan mereka dan membawakannya secara langsung dengan latar suasana Gunung Padang yang cerah dan pemandangan yang aduhai indahnya.

Meskipun hari kerja, namun Gunung Padang kedatangan banyak pengunjung yang datang sejak pukul 10 pagi. Para wisatawan lokal ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, karyawan, hingga beberapa keluarga yang datang menjelang waktu makan siang. Meskipun medan yang ditempuh cukup sulit, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para wisatawan untuk menaiki Gunung Padang dari teras pertama hingga puncak.***

DSCN0361
Wisatawan di Gunung Padang
DSCN0343
Persiapan syuting live-video Padang Semesta
DSCN0362
Tumpukan bebatuan Gunung Padang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s