Hold Fast, Don’t Lose Heart!

Someday, you’re going to look back at all the progress you’ve made and be so glad you didn’t give up when you felt like it was your only option.

 

Menyerah adalah perkara mudah. Pernah saya berdiri di persimpangan jalan, dihadapkan pada pilihan apakah harus terus berjuang atau berhenti tanpa perlu tau hasil akhirnya. Hari ini, saya bersyukur karena tak pernah kehilangan semangat meskipun sering gagal karena saya selalu punya tenaga untuk melanjutkan perjalanan.

***

Ceritanya begini…

Setahun setelah lulus menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran di tahun 2011, dengan semangat masih 100% saya yakinkan diri untuk langsung melanjutkan kuliah Magister di fakultas dan universitas yang sama. Proses pendaftaran dan tes seleksi saya jalani satu per satu sampai akhirnya saya dinyatakan lulus dan akan memulai perkuliahan pada Agustus 2012. Senang, bukan main!

Namun sayangnya, disaat mendekati batas waktu untuk menyelesaikan administrasi, ternyata orang tua saya tidak memiliki cukup uang untuk bisa membiayai kuliah kala itu. Akhirnya saya putuskan untuk membatalkan rencana melanjutkan kuliah dan akan mencari kesempatan di lain waktu. Kemudian saya pun kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan.

Adalah tahun 2013 ketika saya meninggalkan kesibukan bekerja sebagai Social Media Manager di ARDAN Radio Bandung demi sebuah cita-cita melanjutkan kuliah S2 yang sempat tertunda setahun sebelumnya. Tak cukup dengan keinginan kuliah di dalam negeri, saya mantapkan niat untuk mencoba kesempatan sekolah di luar negeri. Lagi, perjuangan kali ini pun berakhir dengan kegagalan, penyebabnya adalah saya belum terlalu siap dengan semua persyaratan yang diminta oleh universitas. Tujuan saya saat itu adalah University of Groningen di Belanda. Meskipun tak jadi melanjutkan S2, tapi saya tetap berangkat ke Belanda di akhir tahun 2013 karena mendapatkan beasiswa short course Broadcasting Management di Radio Netherlands Training Center.

Masih di tahun yang sama, sepulang dari Belanda, saya kembali melanjutkan misi untuk mencari sekolah dan mendaftar beasiswa. Pilihan kemudian jatuh pada University of Westminster di London, Inggris. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya kemudian menjadi lebih teliti dalam mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan. Saya menemui dosen-dosen semasa kuliah S1 di Unpad Jatinangor untuk mendapatkan Surat Referensi yang menjadi salah satu syarat utama untuk melanjutkan kuliah Magister. Proses pendaftaran kuliah saya lakukan di bulan September 2013.

Berbulan-bulan tak kunjung mendapat kabar apakah saya diterima atau tidak di jurusan Communication Policy. Email yang saya kirim pun berbalas tanpa kepastian. Tak mungkin saya terus-menerus menggantungkan kehidupan saya pada orang tua, akhirnya saya hijrah ke Jakarta, kembali harus menunda cita-cita.

Saya Tak Berjodoh dengan Jakarta

April 2014, saya bekerja di Musica Studio’s Jakarta sebagai Senior Social Media Executive, sebuah pekerjaan yang banyak diincar orang. Memasuki bulan ketiga bekerja dengan kontrak probation, sebuah email dari University of Westminster masuk di inbox yang menyatakan bahwa saya diterima di kampus tersebut dengan status ‘Conditional’ untuk tahun ajaran September 2014/2015. Artinya ada syarat tambahan yang harus saya penuhi yaitu skor IELTS yang harus mencapai minimal 6.5 untuk semua komponen.

Saat itu saya dihadapkan pada sebuah pilihan: Fokus belajar bahasa Inggris agar mendapatkan skor tinggi dan meninggalkan pekerjaan di Jakarta atau tetap bekerja di Jakarta sambil belajar bahasa Inggris.

Saya berpikir keras. Sangat tak mungkin untuk mengikuti kursus bahasa Inggris sambil tetap bekerja di Jakarta, pekerjaan saya membutuhkan komitmen waktu yang sangat ketat. Juga tak mungkin untuk belajar sendiri karena saya belum pernah mengikuti tes IELTS sebelumnya. Mengingat biaya tes yang cukup mahal, buat saya ini adalah kesempatan sekali untuk selamanya. Satu kali tes IELTS, skor saya harus langsung mencapai target supaya tak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan tes ulang. Satu-satunya cara yang harus saya tempuh adalah meninggalkan pekerjaan di Jakarta, kembali ke Bandung, dan menjalani kursus IELTS Preparation.

Begitulah akhirnya, saya hanya bertahan 3 bulan di Jakarta dan pulang ke Bandung, Juli 2014. Setelah itu, kesibukan saya berganti menjadi belajar bahasa Inggris setiap hari selama berbulan-bulan lamanya sambil bekerja paruh waktu sebagai Social Media Writer di OZ Radio Bandung.

Februari 2015, akhirnya saya berhasil meraih skor IELTS 6.5 dan status kemahasiswaan saya di University of Westminster pun berganti menjadi ‘Unconditional Offer’. Saatnya saya mendaftar Media, Arts, and Design Excellence Scholarship yang ditawarkan oleh kampus. Di bulan April 2015, berkas-berkas aplikasi beasiswa tersebut langsung saya kirimkan ke London.

Bulan berganti Mei, Juni, kemudian masuk bulan ramadan, sudah resign dari pekerjaan, tapi lagi-lagi saya tak kunjung mendapatkan kabar apakah saya lolos seleksi beasiswa atau tidak.

Gagal Lagi, Gagal Lagi!

Sebulan menjelang perkuliahan dimulai – Agustus 2015 – akhinya saya mendapatkan kabar bahwa saya tidak lolos seleksi. Kali ini saya gagal lagi. Gagal terus. Hampir kehilangan semangat, kemudian saya bingung. Saya harus melakukan sesuatu. Mau tetap memperjuangkan mimpi atau mencari pekerjaan baru untuk menyambung kehidupan? Dengan perasaan penuh kekecewaan, akhirnya saya putuskan untuk melakukan keduanya. Rasanya seperti bergerak merayap setelah jatuh tersungkur. Lelah sekali! Ditambah, saya melihat kemajuan teman-teman di sekeliling yang sudah berlari jauh. Ada yang berangkat ke Inggris di waktu bersamaan dengan kegagalan saya, ada yang baru mendapatkan pekerjaan hebat, ada yang menikah, dan ada yang sedang menanti kelahiran anak pertama.

Rasanya mudah sekali bagi saya untuk menyerah saat itu juga. Tapi saya putuskan untuk tetap bergerak dan berpegangan pada Dzat yang Maha Menyelamatkan. Kenapa pula harus menengadah disaat saya punya kesempatan untuk menunduk?

Memasuki akhir tahun 2015, saya kemudian mendapatkan sebuah pekerjaan baru sebagai Social Media Writer bersama kawan-kawan ATAP Promotions di Bandung. Melalui pekerjaan ini, saya dipertemukan dengan banyak orang hebat dan mendapatkan begitu banyak pengalaman baru. Dengan suasana hati yang jauh lebih tenang dan santai, saya kemudian kembali memulai semua proses yang harus dilakukan untuk mendaftar kuliah S2. Belajar dari kegagalan sebelumnya, saya tak boleh hanya bergantung pada satu kampus dan di waktu inilah saya banyak menggali informasi mengenai beasiswa LPDP.

September 2015, saya mendapatkan dua Letter of Acceptance ‘Conditional Offer’, masing-masing dari University of Manchester dan Newcastle University, serta satu ‘Unconditional Offer’ dari University of Glasgow. Setelah mempelajari kurikulum pada masing-masing kampus, saya putuskan untuk melanjutkan kuliah di University of Glasgow dengan jurusan Media, Communications, and International Journalism. Satu langkah terakhir adalah mempersiapkan pendaftaran beasiswa LPDP yang ternyata juga tak gampang karena persaingannya sangat ketat. Proses ini saya mulai di awal tahun 2016.

Hold Fast, Don’t Lose Heart!

Diantara hari-hari sibuk di kantor, saya luangkan waktu untuk melengkapi berkas-berkas pendaftaran beasiswa. Berkali-kali datang ke kampus Fikom Unpad Jatinangor untuk meminta Surat Rekomendasi dari dosen. Tak jarang juga saya pulang dari sana dengan tangan hampa karena dosen yang dicari sedang tak ada di kampus. Rela menunggu berjam-jam di ruang Dekan demi selembar ‘surat sakti’ yang bisa mengantarkan saya ke kampus impian. April 2016, dokumen-dokumen untuk mendaftar beasiswa sudah siap dan dengan penuh harap, saya mendaftar beasiswa LPDP dan beasiswa Chevening yang ditawarkan oleh Pemerintah Inggris, .

Satu bulan kemudian, saya menerima email pemberitahuan dari penyedia beasiswa Pemerintah Inggris yang menyatakan bahwa saya tak lulus seleksi dokumen. Lagi, saya gagal. Namun saya masih memiliki harapan dari seleksi beasiswa LPDP, sambil kepala ini sibuk merencanakan apa yang harus saya lakukan jika tahun ini saya kembali gagal melanjutkan sekolah.

Setelah menjalani proses panjang berbulan-bulan, mengawali ramadan 2016, akhirnya saya dinyatakan lulus seleksi beasiswa LPDP dan berangkat menuju Glasgow di akhir bulan Sepember 2016. Saya menjalani kuliah selama satu tahun penuh dan lulus dengan gelar Master of Science with Merit dari jurusan Media, Communications, and International Journalism.

Winter Graduation UofG-Sheisa Sudrajat
Winter Graduation University of Glasgow, November 2017

Harus Terbiasa dengan Kegagalan

Ada yang bilang, buat apa saya terlalu memaksakan diri kuliah S2. Sudah tak punya uang, beasiswa gagal melulu. Lebih baik kerja, cari uang yang banyak, bantu-bantu orang tua.

Untuk beberapa saat, itu merupakan hal paling realistis yang bisa saya lakukan. Lupakan mimpi untuk sekolah tinggi. Terima kenyataan kalau saya tak mampu mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi kemudian saya berpikir. Kalau saya mau menyerah, kenapa tak saya lakukan dari dulu? Kenapa harus menyerah setelah bertahun-tahun? Kenapa menyerah sekarang?

Hanya ada satu sumber kekuatan yang membuat saya tak pernah kehilangan kekuatan, doa. Usaha keras dan doa yang tak terputus adalah kombinasi hebat untuk menjaga agar tidak jumawa saat berhasil dan tidak kehilangan tenaga saat gagal.

Ketika saya hampir tak mampu lagi untuk berjuang, tak lagi punya daya untuk berusaha, tak lagi punya semangat untuk bahagia, saya pasrah tapi tetap berjuang. Bagi saya, menyerah bukanlah pilihan, karena cita-cita harus diperjuangkan. ***

Advertisements

10 thoughts on “Hold Fast, Don’t Lose Heart!

  1. Halo mba aku Tania, aku boleh minta kontaknya, ingin menanyakan beberapa hal mengenai beasiswa LPDP. Oh ya waktu pertama daftar di univ. Westminster ambil master jurusan apa? Dan pake beasiswa apa tuh mba?

    Thanks,
    Regards
    Tania.

  2. halo kak, sya terinspirasi dgn ceritanya yg membuat sy ingin menyerah dan mencoba mengambil jalan tengah. saya ingin banyak bertanya soal copywriter? dan saya berencana ingin cari pekerjaan di Bandung, saya bisa minta kontaknya kah?

  3. Kalimat penutupnya sungguh sangat menyenangkan sekali bagi saya :’) MasyaAllah, tulisannya sangat menginspirasi Teh! Terima kasih banyak, saya jadi termotivasi untuk tida menyerah dan mencoba lagi meski kegagalan pernah dicicip :’)
    -Adinda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s