Glasgow: The First 24 Hours

In Glasgow, HOW means WHY.

Pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK027 mendarat dengan mulus di Glasgow International Airport jam 12 siang waktu setempat. Hari ini tanggal 4 September 2016. Masih ada perasaan ngga percaya kalau akhirnya saya sampai juga disini, di kota kelahiran Belle & Sebastian yang jauhnya 11.784 kilometer dari rumah.

Lolos dari petugas imigrasi tanpa pertanyaan yang berarti adalah pencapaian pertama terbesar saya di Glasgow. Setelah keluar dari bandara dengan tiga koper besar, barulah saya merasa bahwa kehidupan baru sudah dimulai. Ada banyak cerita unik dalam 24 jam pertama setelah saya menginjakkan kaki di tanah William Wallace. Mulai dari cuaca yang ngga menentu, bahasa Inggris yang susah dimengerti, dan suasana kota yang terlalu banyak kejutan.

SCOTS LEIDS IS ENGLISH, TOO!

Bohong rasanya kalau saya ngga mengalami culture shock begitu sampai di Glasgow. ‘Perbedaan’ bahasa jadi penghalang yang lumayan menantang. Orang lokal pertama yang saya coba ajak ngobrol adalah supir taksi yang mengantarkan saya dari bandara menuju ke flat. Lalu berikutnya adalah petugas McD waktu saya beli McChicken buat makan malam. Dan yang terjadi adalah saya gagal memahami keduanya! Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, karena setiap kali mereka menanyakan sesuatu, pasti saya balas dengan bilang “Sorry?” atau “Come again?” berulang-ulang.

language
Hey, lads!

Boleh bayangkan, ini adalah perbedaan kalimat yang diucapkan pakai bahasa Inggris dan Scottish. Misalnya menyapa “HOW ARE YOU?” maka yang mereka ucapkan “HOO’S IS GAUN?” atau bisa juga “WHIT LIKE ARE YE?” dan bahkan jadi “HOO ARE YE?”. Bodor kan jadinya, kalau saya disapa “HOO ARE YE?” yang terdengar adalah “WHO ARE YOU?” maka saya jawabnya “I’M SHEISA.” Ngga nyambung deh obrolannya…

Dan kebalikannya, kalau saya menyapa mereka dengan “HOW ARE YOU?” maka kemungkinan jawabannya adalah “NAW BAUD AT AW, AN WHIT LIKE YERSEL?” atau “A’M DAEIN FINE, WHIT ABOOT YERSEL?” Ngga gampang juga buat dimengerti. Meskipun ngga semua Glaswegian bicara dengan logat yang sama, tapi kebanyakkan ya seperti itu adanya: Cepat, disingkat-singkat, dengan aksesn yang sangat kental.

WHERE’S THE FOOD?

Saya tinggal di daerah West End. Lingkungan yang ngga se-ramai City Center, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tapi lengkap dengan jajaran toko lokal, toko kelontong, swalayan, toko buah-buahan, toko roti, coffee shop, dokter, bahkan masjid. Dan semuanya bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Mencari makanan – terutama makanan halal – di Glasgow ternyata perkara yang mudah. Ada banyak pilihan tersedia. Di seberang jalan dekat flat tempat saya tinggal, ada toko daging halal dan macam-macam Turkish food, belum lagi pilihan Chinese food dan Indian food. Pun di daerah yang lain, semua jenis makanan halal gampang ditemukan. Selain itu, makan di kantin kampus juga jadi pilihan yang oke. Lebih murah dengan porsi yang lebih banyak. Untuk urusan makanan, It’s all gravy!

THE WEATHER: IT’S BLOODY BALTIC THE DAY!

Datang dari negara yang selalu banjir matahari, membuat badan saya lumayan mengigil sesampainya di Glasgow. Suhu 16 derajat lumayan membuat kepala sakit dan butuh jaket lumayan tebal. Benar apa kata orang, kalau di Glasgow matahari enggan menampakkan diri. Sepanjang hari terasa gloomy karena cuaca mendung dan angin yang bertiup kencang. Sinar matahari dan awan biru cerah hanya mampir sesekali untuk beberapa menit, tak pernah lebih dari setengah jam. Sisa pemandangan hanya tinggal awan putih, berbarengan dengan hujan rintik-rintik sepanjang waktu.

dscn2181
Jam 10 pagi di Argyle St, Glasgow

THE WEST END’S FLAT

Dua bulan sebelum kuliah dimulai, saya mantap memilih untuk tinggal di student accommodation. Ini adalah flat (apartemen) khusus mahasiswa, yang segala sesuatu-nya diurus langsung oleh University of Glasgow. Dan ternyata pilihan ini ngga salah. Setidaknya untuk saya. Dengan harga sewa ‎£450 setiap bulannya, yang tinggal saya lakukan adalah langsung menempati kamar dan mematuhi aturan yang udah dipersiapkan oleh pengelola gedung. All fully furnished!

Saya menempati salah satu flat di Kelvinhaugh Street. Saya berbagi tempat dengan mahasiswa lainnya dari banyak negara. Begitu sampai di kamar, saya langsung bongkar isi koper dan merapikan meja lemari. Bed cover yang saya bawa dari Bandung, sedikit membawa suasana rumah ke dalam kamar. Dari 5 kamar yang tersedia, baru 3 yang terisi. Ada saya, juga Katarina dan Aideen, keduanya dari Amerika. Dari tempat saya tinggal ini, ke kampus dan ke pertokoan, all in walking distance. I’m a happy girl!

WhatsApp Image 2016-09-04 at 16.03.21.jpeg
The common room
whatsapp-image-2016-09-04-at-18-43-55
The bed room
whatsapp-image-2016-09-04-at-16-03-05
The neighborhood seen from 3rd floor

THE PUBLIC TRANSPORT TO GET TO KNOW GLASGOW

Ada beberapa pilihan transportasi umum yang bisa digunakan di Glasgow buat jalan-jalan ke berbagai tempat: Bis, Subway, ScotsRail, Taksi, dan Sepeda. Dari semuanya itu, saya baru mencoba bis dan subway. Sistem pembayaran tiket bis menggunakan kartu yang bisa dibeli di mini market atau karcis yang langsung dibeli di supir bis. Sementara tiket subway dibeli di vending machine atau berlangganan smart card. Harganya berkisar antara £1.2 sampai £2.40 untuk sekali jalan.

Subway di Glasgow punya rute yang unik karena bentuknya melingkar, ngga rumit seperti Metro Paris atau London Underground. Jarak dari satu station ke station berikutnya kurang lebih ditempuh selama 2 sampai 4 menit. Lebih lucu lagi, bentuk keretanya hampir bulat dan pendek. Jadi kalau ada penumpang yang badannya tinggi besar – terutama cowo-cowo – mereka harus merunduk di dalam kereta!

dscn2199
Bis #2 menuju kampus UofGlasgow
subway_map
Glasgow Subway Map
_57316022_modernsubwaytrain976by549
Glasgow Subway Train

THE GLASWEGIAN 

Katanya, orang-orang Glasgow ramah-ramah dan baik hati. Terbukti di hari pertama saya sampai disini, saya banyak bertemu dan dibantu sama orang-orang lokal. They are very much helpful, indeed. Ketika belanja di swalayan, pergi ke bank, bertanya arah jalan, memastikan jurusan bis, mereka selalu mau membantu. Ditambah lagi, ternyata orang-orang disini murah senyum. At least I have nothing to worry about, eh?

THE CITY IS JUST PRETTY

Jajaran bangunan tua dan gedung-gedung bersejarah jadi bagian dari Glasgow. Setiap hari, di perjalanan ke kampus atau ke City Center, saya menemukan banyak sekali tempat dengan arsitektur yang masih asli. Jalan raya di Glasgow hampir mirip dengan Bandung, kecil dan banyak yang jaraknya pendek-pendek. Bahkan ada juga jalanan yang nanjak seperti di Dago. Orang-orang disini kalau naik mobil ngebut-ngebut, mungkin karena jalannya bagus ya… Sementara kalau mau nyebrang jalan, ngga ada zebra cross. Adanya besi-besi pipih yang tertanam di jalan raya untuk penanda tempat nyebrang jalan.

DSCN2223.JPG
Behind the university
DSCN2222.JPG
Old building in the neighborhood
DSCN2212.JPG
South Gate of UofGlasgow

GLASGOW UNIVERSITY

Ini dia tempat dimana saya akan belajar selama 12 bulan ke depan. The University of Glasgow. Universitas tertua ke-4 di English-speaking world dan jadi salah satu ancient campus di Skotlandia. Arsitekturnya sama persis dengan apa yang digambarkan oleh J.K Rowling di novel Harry Potter. Dan memang benar adanya kalau orang-orang disini menyebutnya Hogwarts Campus. Ada ruangan kelas yang letaknya di bawah tanah, tangga-tangga kayu yang melingkar menuju aula utama, kursi-kursi kayu di pinggiran taman, dan rumput-rumpit hijau di tengah-tengah kampus. Ada museum besar dan tertua di Skotlandia di dalam kampus ini yang menyimpan koleksi barang seni The Mackintosh House, The Zoology Museum, dan The Anatomy Museum.

DSCN2188.JPG
East Quadrangle
DSCN2176.JPG
Front Building
whatsapp-image-2016-09-08-at-08-57-36
Main Building

Ini adalah cerita 24 jam pertama saya tinggal di Glasgow, Skotlandia. Masih ada banyak cerita dan pengalaman seru lainnya, dari setiap tempat yang dikunjungi, setiap waktu yang dilewati, dan setiap orang yang ditemui. Now it’s time for me run for school. Hae a guid day, lads! ***

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Glasgow: The First 24 Hours

  1. Pertama ngenalin aksen Scottish itu di serial Sex And The City (again, eh) hehe. Happy pisan ngeliat kamu disana, Shap! Selama ini kamu dressed up ala-ala winter kan kalo di Bandung dan voila! Ayeuna di Glasgow lah. Mecing ;) Selamat belajar dan bersenang-senang, Ceca.

  2. Jadi ngebayangin sendiri sih gimana aksen nya yang se”weird” itu. Haha… Keep update ceritanya dari Glasgow Sheisa. Semangat juga buat kuliahnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s