Cerita dari Glasgow: Kalau Shalat dimana?

Baru-baru ini saya ditanya sama teman di Bandung lewat WhatsApp:

“Shap, kamu di Glasgow kalau shalat gimana?”

Sekilas agak rancu ya pertanyaannya hahaha! Seolah-olah shalat di UK beda dengan di Indonesia, padahal sama-sama aja: Dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam,. yang membuat beda adalah waktu dan suasana-nya. Jarang sekali saya mendengar kumandang adzan, hanya seminggu sekali setiap Jumat karena disini perempuan juga ikut shalat Jumat (Jummah). Kalau udah terlampau kangen, saya buka YouTube dan nonton video adzan di Makkah.

Di minggu-minggu pertama tiba di Glasgow September 2016 lalu, waktu shalat belum berubah drastis. Tapi saat masuk musim dingin seperti sekarang, waktu shalat benar-benar beda. Siang semakin pendek dan malam semakin panjang, jadi lebih cepat gelap.

Subuh jam 6:20. Matahari terbit jam 08:30. Dzuhur jam 12:16. Ashar 1 jam 13:31. Ashar 2 jam 13:56. Maghrib jam 15.50. Isya jam 18:40. Jadwal shalat ini mengacu pada Glasgow Mosque Prayer Timetable yang memang direkomendasikan oleh kebanyakkan komunitas Muslim di Glasgow.

Kalau shalat dimana?

Benar adanya kalau lagi bepergian, sulit untuk menemukan tempat shalat. Jadi sebisa mungkin saya melakukan shalat jamak atau qashar. Tapi di kampus, ada dua tempat yang sering dijadikan tempat shalat: Interfaith Room di gedung utama universitas dan Reflective Space di perpustakaan. Kedua tempat ini tidak sepenuhnya digunakan sebagai mushala, tapi jadi tempat berdoa dan meditasi untuk semua agama. Tempatnya sungguh nyaman, bersih, lengkap dengan peralatan shalat, dan tempat wudhu (ablution).

photo-3
Interfaith Room
photo-1
Tempat wudhu di Interfaith Room

Ini adalah suasana Interfaith Room saat awal-awal saya mulai kuliah. Sekarang tempat ini udah sedikit dimodifikasi dengan tambahan meja-meja, kursi-kursi, dan pembatas di tengah ruangan. Di tempat ini, mahasiswa muslim University of Glasgow sering melakukan berbagai pertemuan, mulai dari diskusi tentang Islam, sharing pengetahuan, sampai kegiatan semacam afternoon tea dan sister’s spa night. Ruangan yang juga berfungsi sebagai tempat pertemuan untuk mahasiwa dari berbagai keyakinan ini, terbuka untuk semua orang setiap hari sampai jam 6 sore.

Adalah Glasgow University Muslim Students Association (GUMSA) yang menjadi penggerak untuk semua kegiatan tersebut. Mereka adalah aktivis-aktivis muda – mahasiswa Undergraduate yang masih kuliah di tahun ketiga – dan berjuang di kampus sampai tingkat Student Representatif Council (SRC, semacam Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk bisa mendapatkan berbagai hak berkaitan dengan kegiatan keagamaan di lingkungan universitas, seperti fasilitas ruangan ibadah dan kegiatan lainnya. Salah satu acara rutin yang biasa saya ikuti adalah Sister’s Circle, dimana kami mahasiswi muslim berkumpul di Interfaith Room dan membahas buku-buku tentang Islam, berbagi pengalaman spiritual, dan bercerita tentang tradisi Islam di negara masing-masing.

14468780_1220707607971322_7299838635217732346_o
Sister’s afternoon tea | Photo: GUMSA
15123031_1289275151114567_3667819716696523395_o
Sister’s spa night | Photo: GUMSA

Selain Interfaith Room, University of Glasgow juga menyediakan Reflective Room di perpustakaan lantai 6 yang bisa diakses setiap hari mulai jam 7 pagi sampai jam 2 dini hari menyesuaikan dengan jam buka perpustakaan. Awalnya ruangan ini ada di lantai 8 dengan kondisi yang kurang memadai tanpa tempat wudhu, jadi kalau ingin shalat disini, harus wudhu  di toilet. Tapi atas inisiatif GUMSA akhirnya universitas memindahkan Reflective Room ke lantai 6 dengan ukuran ruangan yang lebih luas, nyaman, dan ada bak cuci yang bisa dipakai untuk wudhu.

Saya bersyukur dengan apa yang dilakukan oleh GUMSA dan didukung oleh universitas yang bersedia menyediakan tempat dan memberikan begitu banyak kebebasan untuk mahasiwa muslim dalam beribadah. Hal ini juga berlaku sama untuk mahasiwa lainnya dengan berbagai keyakinan yang berbeda. Kami punya ruangan ibadah yang bersih dan nyaman, sungguh lebih dari cukup.

Dengan segala keterbatasan yang ada, buat saya tinggal di Glasgow sebagai muslim ternyata mudah dan menyenangkan. Padahal dulu saya datang dengan rasa khawatir: Makanan halal, Brexit dan Islamophobia. Tapi ternyata di Glasgow makanan halal ada dimana-mana, bahan makanan halal banyak tersedia di supermarket, masjid sangat mudah dijangkau, dan pada dasarnya Glaswegian adalah orang-orang yang ramah dan helpful. Pernah saya diperlakukan kurang baik dua atau tiga kali, tapi karena itu tidak mengancam keselamatan saya, jadi saya acuh. Buat saya, selama tidak ada kontak fisik seperti mendorong dan menarik hijab, saya tidak pernah khawatir bepergian sendirian, bahkan di malam hari. Allah is with us, anyhow…

photo-1
Refliective Room di University Library | Photo: Martha Retnaning Tyas (mahasiswi Indonesia)
photo-3
Reflective Room yang udah dilengkapi dengan pemisah
photo-4
Beberapa waktu lalu, universitas melakukan sedikit renovasi di Reflective Room dengan menambahkan almari, meja, dan kursi
photo-2
Dapur kecil dengan bak cuci yang biasa digunakan untuk wudhu

Merujuk ke sebuah buku berjudul Muslims in Scotland: The Making of Community in a Post-9/11 World yang ditulis Dr. Stefano Bonino, muslim yang tinggal di Skotlandia kebanyakkan berasal dari Pakistan dan tersebar di Glasgow, Edinburgh, Aberdeen, dan Dundee. Sejarah muslim di Skotlandia sering jadi rujukan sejarah yang positif dibanding negara-negara lainnya di Eropa. Ditambah lagi, tokoh-tokoh muslim di negara ini bahkan mampu mendapatkan jabatan tinggi di tingkat pemerintahan. Scottish Government mencatat ada 17,792 (3.1% dari jumlah populasi 577,869) muslim di Glasgow yang terhitung lebih banyak dibanding penganut agama Yahudi, Hindu, dan Budha.

Kami adalah minoritas yang hidup berdampingan dengan penganut Kristen sebagai agama terbesar di Glasgow. Saya belajar jauh lebih banyak tentang empati dan merasakan jauh lebih sering tentang hidup bertoleransi. Ada masa-masa dimana kami – setidaknya saya – tidak merasakan nuansa ke-Islam-an yang biasa ada dikeseharian, hal sederhana seperti mendengar kumandang adzan atau menemukan masjid dan mushalla di berbagai tempat. You never know how important something is until you lose it adalah benar adanya. Bersyukurlah bagi siapapun yang sekarang bisa selalu mendengarkan panggilan adzan setiap hari. Datangilah penggilan itu dan pergilah ke masjid. Karena sesungguhnya itu yang paling saya rindukan sekarang… ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s